Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Tak Puasa Tarwiyah? Anda Tetap Bisa Puasa Arafah dan Mendapatkan Keutamaannya

Tak Puasa Tarwiyah? Anda Tetap Bisa Puasa Arafah dan Mendapatkan Keutamaannya Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Warta Ekonomi, Jakarta -

Puasa Arafah menjadi salah satu ibadah sunnah paling dinanti umat Islam pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Namun, masih banyak masyarakat yang justru ragu menjalankannya karena mengira puasa tersebut wajib didahului puasa Tarwiyah sehari sebelumnya.

Padahal, dalam hukum fikih, puasa Arafah tetap sah dilakukan meski seseorang tidak menjalankan puasa Tarwiyah. Kedua ibadah sunnah itu berdiri sendiri dan tidak saling menjadi syarat satu sama lain.

Kesalahpahaman ini dinilai membuat sebagian umat kehilangan kesempatan meraih pahala besar puasa Arafah. Banyak orang memilih batal berpuasa hanya karena merasa terlambat memulai sejak tanggal 8 Dzulhijjah.

Puasa Tarwiyah sendiri dilaksanakan pada 8 Dzulhijjah dan memiliki nilai sunnah yang baik untuk diamalkan. Nama Tarwiyah berasal dari tradisi jamaah haji pada masa lalu yang menyiapkan persediaan air sebelum menuju Padang Arafah.

Sementara itu, puasa Arafah dilakukan pada 9 Dzulhijjah ketika jamaah haji melaksanakan wukuf di Arafah. Puasa ini dikenal sebagai salah satu sunnah paling utama bagi umat Islam yang tidak sedang berhaji.

Keutamaan puasa Arafah dijelaskan dalam hadis riwayat Muslim. Rasulullah SAW menyebut puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.

Hadis tersebut membuat puasa Arafah memiliki posisi istimewa dibanding banyak ibadah sunnah lainnya. Karena itu, umat Islam tetap dianjurkan menjalankannya meski tidak sempat melakukan puasa Tarwiyah.

Tidak ada dalil yang menyatakan puasa Arafah harus diawali Tarwiyah agar sah. Para ulama menjelaskan bahwa masing-masing puasa memiliki niat dan pelaksanaan tersendiri.

Bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan fisik atau aktivitas pekerjaan padat, puasa Arafah tetap bisa dijalankan tanpa rasa khawatir. Kesempatan mendapatkan pahala besar tetap terbuka selama puasa dilakukan dengan niat yang benar.

Selain menahan lapar dan haus, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak doa, zikir, serta sedekah pada hari Arafah. Hari tersebut diyakini sebagai salah satu waktu terbaik untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT.

Momentum Arafah juga sering disebut sebagai kesempatan memperbaiki diri sebelum Hari Raya Idul Adha. Karena itu, banyak ulama mengingatkan agar umat tidak kehilangan peluang ibadah hanya karena salah memahami hukum puasa sunnah.

Adapun niat puasa Arafah dapat dibaca sejak malam hari maupun sebelum waktu zawal bagi yang belum makan dan minum. Lafal niatnya yakni, “Nawaitu shauma ‘Arafata sunnatan lillahi ta‘ala.”

Baca Juga: Bolehkah Gabung Niat Puasa Qadha Ramadhan dan Puasa Arafah? Ini Penjelasan PBNU

Artinya, “Saya berniat puasa sunnah Arafah karena Allah Ta’ala.” Niat tersebut menjadi penegas bahwa puasa Arafah dapat dijalankan secara mandiri tanpa harus didahului puasa Tarwiyah.

Dengan penjelasan tersebut, umat Islam kini tidak perlu lagi bingung atau ragu menjalankan puasa Arafah. Meski hanya berpuasa pada 9 Dzulhijjah, keutamaan besar yang dijanjikan tetap bisa diraih sepenuhnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama

Tag Terkait: