Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Sudah Terjebak, Trump Tak Akan Bisa Lari dari Efek Perang Iran-Amerika Serikat

Sudah Terjebak, Trump Tak Akan Bisa Lari dari Efek Perang Iran-Amerika Serikat Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran dinilai mulai berubah menjadi jebakan politik dan ekonomi bagi Presiden AS, Donald Trump. Bukan lagi sekadar perang militer, pertarungan kedua negara kini bergeser ke medan ekonomi global dengan Selat Hormuz sebagai senjata utama Iran.

Analis senior dari Cato Institute, Doug Bandow, menilai Trump berada dalam posisi yang semakin sulit setelah konflik berkepanjangan memicu gangguan besar di jalur minyak dunia.

Baca Juga: Perang Iran Belum Usai, Amerika Malah Ancam Hancurkan Oman Demi Selat Hormuz

“Trump berada dalam posisi yang sangat sulit. Tanpa sadar ia telah memberi Iran senjata yang sangat kuat lewat penutupan Selat Hormuz,” ujar Bandow kepada Al Jazeera.

Situasi ini bukan hanya soal ancaman militer, melainkan fakta bahwa Iran kini memiliki alat tekanan ekonomi global yang sangat efektif tanpa harus berhadapan langsung dalam perang terbuka besar-besaran.

Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi energi dunia. Ketika jalur itu terganggu, harga minyak global langsung melonjak dan berdampak ke ekonomi internasional, termasuk Amerika Serikat sendiri.

Bandow menilai Trump juga menghadapi dilema besar karena Washington disebut tidak ingin mengambil risiko mengerahkan kapal perang secara penuh untuk membuka jalur tersebut.

“Itu membuat Trump akan sulit menghindari kesepakatan yang pada akhirnya memuaskan Iran,” kata Bandow.

Pernyataan ini muncul di tengah negosiasi alot antara AS dan Iran yang hingga kini belum mencapai titik final.

Trump sebelumnya mengaku belum puas dengan rincian kesepakatan yang sedang dibahas. Ia bahkan kembali mengancam akan melanjutkan serangan militer apabila Iran tidak memenuhi tuntutan Washington.

Namun di sisi lain, tekanan domestik terhadap Trump juga dinilai semakin besar.

Bandow meragukan klaim Trump yang mengatakan dirinya tidak peduli terhadap dampak perang terhadap pemilu paruh waktu AS mendatang.

“Tidak ada yang benar-benar percaya itu. Hal terakhir yang diinginkan Trump adalah kekalahan besar Partai Republik pada November,” ujarnya.

Menurut Bandow, publik Amerika mulai lelah dengan konflik berkepanjangan yang berdampak langsung terhadap ekonomi, energi, hingga stabilitas global.

“Semua orang ingin ini berakhir. Saya yakin Trump mendengar tekanan itu dan peduli,” tambahnya.

Situasi semakin rumit setelah Iran disebut tetap mempertahankan pengaruhnya atas Selat Hormuz di tengah pembahasan gencatan senjata dan draft kesepakatan baru.

Media pemerintah Iran sebelumnya melaporkan rancangan kesepakatan yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz serta penarikan pasukan AS dari kawasan Teluk. Namun Gedung Putih membantah laporan tersebut dan menyebutnya sebagai fabrikasi.

Meski demikian, pernyataan Trump bahwa “tidak ada pihak yang boleh mengendalikan Selat Hormuz” justru memperlihatkan betapa penting dan sensitifnya jalur laut tersebut bagi kepentingan Amerika Serikat.

Baca Juga: Amerika Gak Puas Soal Negosiasi Iran, Opsi ‘Selesaikan’ Perang Kini di Atas Meja

Konflik yang awalnya diproyeksikan menjadi tekanan besar bagi Iran kini justru mulai memunculkan efek domino terhadap ekonomi global dan stabilitas politik Washington sendiri.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar