Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Teddy Ungkap Diplomasi Prabowo Berbuah Investasi Rp2.430 Triliun

Teddy Ungkap Diplomasi Prabowo Berbuah Investasi Rp2.430 Triliun Kredit Foto: Istihanah
Warta Ekonomi, Jakarta -

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa alasan di balik tingginya mobilitas kunjungan ke luar negeri Presiden Prabowo Subianto dalam 1,5 tahun terakhir adalah strategi diplomasi untuk memperkuat hubungan antarnegara dan menghasilkan berbagai capaian konkret, mulai dari investasi, akses pasar, hingga penguatan ketahanan nasional.

Dalam laman sosial medianya, ia menanggapi kritik soal kunjungan presiden ke luar negeri yang dinilai berlebihan. Ia mengatakan, di tengah dinamika global yang berlangsung saat ini menuntut para pemimpin negara membangun hubungan yang erat dengan pemimpin dunia lainnya.

“Jadi Presiden Prabowo itu adalah Presiden baru yang mulai menjabat saat dunia sedang krisis. Sebelumnya ada konflik di Ukraina, ada di Venezuela, kemudian sekarang ada di Iran dan Timur Tengah. Jadi setiap pemimpin tentunya harus bangun hubungan yang dekat antar pemimpin dunia,” ujar Teddy di laman Instagram @sekretariat.kabinet, Senin (1/6/2026).

Ia menilai, diplomasi tidak bisa dilakukan hanya ketika krisis terjadi, melainkan hubungan tersebut perlu dibangun sejak awal agar Indonesia memiliki dukungan ketika menghadapi situasi mendesak.

“Dan kita tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis baru kita minta bantuan. Tidak, kita harus panen hubungan yang baik. Lalu bila suatu saat ada kondisi mendesak, kita bisa minta bantuan,” katanya.

Meskipun kerap plesiran, ia menekankan Prabowo masih memperhatikan efisiensi anggaran. Ia menekankan, jumlah rombongan Presiden saat ini telah berkurang lebih dari separuh dibandingkan periode sebelumnya.

“Jumlah rombongan Presiden Prabowo itu sudah berkurang besar-besaran. Lebih dari separuh dari periode sebelumnya. Jadi kalau dulu, itu sekaligus luar negeri bisa lebih dari 120 orang. Zaman Presiden Prabowo jumlahnya antara 50 sampai 60 orang maksimal,” ujarnya.

Kemudian, sejumlah hasil dari diplomasi Presiden tersebut juga ikut dipaparkan, salah satunya adalah masuknya Indonesia ke BRICS yang disebut turut mendukung stabilitas pasokan energi dan pangan nasional.

Selain itu, Teddy menyebut Indonesia berhasil memperoleh akses tarif 0% ke pasar Uni Eropa pada 2025 setelah proses negosiasi yang berlangsung bertahun-tahun.

Sedangkan, dari sisi ekonomi, Teddy mengungkapkan bahwa total investasi yang masuk ke Indonesia dalam 1,5 tahun terakhir mencapai sekitar Rp2.430 triliun.

“Total investasi yang masuk dalam 1,5 tahun ini adalah sekitar Rp2.430 triliun. Itu data dari BKPM,” katanya.

Ia juga mencontohkan kunjungan Presiden ke Jepang dan Korea Selatan pada bulan lalu yang disebut menghasilkan komitmen investasi sekitar Rp575 triliun.

Saat ini, keberhasilan diplomasi tidak dinilai dari seberapa sering kunjungan terjadi tapi dari hasil yang diperoleh bagi kepentingan nasional.

“Karena yang terpenting bagi kami adalah hasil konkretnya. Itu yang kita utamakan,” ujarnya.

Baca Juga: Agenda Kamis, Prabowo Sudah Sampai Selasa: Ada Apa di Prancis?

Baca Juga: Qodari Bantah Kabar Prabowo Batal ke Italia, Agenda Resmi Hanya ke Prancis

Baca Juga: Bakom Sebut Arahan Prabowo Perluas Bahasa Prancis Sejalan dengan Kebutuhan Global

Sekadar informasi, sebelumnya Dino Patti Djalal selaku mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI menyoroti frekuensi kunjungan kerja presiden yang tinggi sejak menjabat. 

Ia menilai, pola perjalanan tersebut mencuri atensi dan menyampaikan sejumlah masukan mulai dari mengandalkan akses virtual untuk menjaga komunikasi dengan para pemimpin dunia lainnya hingga memanfaatkan momen forum internasional saja untuk bertemu para petinggi negara lain.

"Satu perjalanan keluar negeri bisa keluar puluhan, bahkan ratusan miliar. Jadi dengan satu video call yang bernilai Rp0, negara praktis dapat menghemat ratusan miliar dari perjalanan keluar negeri dan hasilnya dari segi substansi juga kurang lebih sama," ujarnya pada Sabtu (30/5/2026).

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri