Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Shanghai Market Sebut RI Tak Bisa Atur Harga Nikel Dunia

Shanghai Market Sebut RI Tak Bisa Atur Harga Nikel Dunia Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ambisi Indonesia untuk memiliki pengaruh lebih besar terhadap harga komoditas global dinilai realistis. Namun, pengaruh tersebut tidak berarti pemerintah dapat mengendalikan atau menetapkan harga nikel secara sepihak.

CEO Shanghai Metals Market (SMM), Logan Lu, mengatakan harga komoditas pada akhirnya tetap ditentukan oleh mekanisme pasar yang terbentuk dari keseimbangan pasokan dan permintaan global.

Menurut dia, pemerintah memang dapat memengaruhi harga melalui berbagai kebijakan, mulai dari pengaturan produksi hingga kebijakan perdagangan. 

Namun, tidak ada pemerintah yang dapat menggantikan mekanisme price discovery yang menjadi dasar pembentukan harga di pasar.

"Tujuannya bukan untuk mengontrol harga secara langsung, karena saya pikir pemerintah mana pun tidak bisa melakukan itu. Pemerintah tidak seharusnya mengeluarkan tolok ukur harga untuk menggantikan price discovery yang didorong oleh pasar," kata Logan Lu dalam pelatihan jurnalistik From Mine to Market di Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Meski demikian, Logan menegaskan Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis dalam industri nikel dunia sehingga berbagai kebijakan yang diterapkan pemerintah terbukti mampu memengaruhi arah pergerakan harga global.

Dalam presentasinya, SMM menunjukkan sejumlah kebijakan Indonesia yang berdampak terhadap harga nikel internasional. 

Di antaranya adalah pengaturan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), perubahan formula Harga Patokan Mineral (HPM), hingga kebijakan yang memengaruhi pasokan bijih nikel domestik.

Grafik yang dipaparkan SMM menunjukkan perubahan kuota RKAB sepanjang 2024 hingga 2025 berkorelasi dengan pergerakan harga nikel global.

Ketika pasokan nikel dipersepsikan lebih ketat akibat keterbatasan kuota, harga cenderung menguat. Sebaliknya, ketika pasar memperkirakan pasokan lebih melimpah, harga bergerak melemah.

"Kontrol yang dimaksud bukan mengontrol angka harga secara harfiah, melainkan memengaruhi harga melalui manajemen keseimbangan penawaran dan permintaan," ujarnya.

Logan menjelaskan pembentukan harga yang akurat membutuhkan informasi yang luas dan transparan dari seluruh rantai pasok industri, mulai dari penambang hingga pengguna akhir.

Menurut dia, tidak ada satu negara pun yang memiliki akses terhadap seluruh informasi yang memengaruhi pasar global.

Baca Juga: Hilirisasi Nikel Dongkrak Ekonomi Maluku Utara, Tumbuh 34% pada 2025

Baca Juga: Insentif EV Berbasis Nikel Dinilai Jadi Kunci Penguatan Hilirisasi Nasional

"Bagaimana Anda tahu apa yang terjadi di luar Indonesia? Apa yang terjadi di hilir, di rantai pasok baterai di China, Korea, Amerika, dan Eropa? Jika tolok ukur harga tidak akurat, itu akan menjadi bencana," katanya.

Ia mengingatkan bahwa harga acuan yang tidak mencerminkan kondisi pasar berpotensi menimbulkan distorsi. Jika harga ditetapkan terlalu tinggi, daya serap konsumen dapat menurun. Sebaliknya, jika harga dipatok terlalu rendah, margin industri dan minat investasi berpotensi tertekan.

Di sisi lain, Logan menilai posisi Indonesia dalam rantai pasok nikel global terus menguat. Bahkan, SMM telah mengembangkan berbagai indeks harga berbasis transaksi Indonesia yang mencakup hampir seluruh rantai nilai industri nikel.

Indeks tersebut meliputi harga bijih nikel laterit Indonesia, Nickel Pig Iron (NPI), feronikel, Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), nickel matte, hingga nikel sulfat untuk kebutuhan baterai kendaraan listrik.

Menurut Logan, perkembangan tersebut menunjukkan Indonesia semakin menjadi salah satu referensi utama dalam pembentukan harga produk nikel dunia.

"Kami memulai dari Indonesia untuk membangun mekanisme harga SMM yang sehat, berkelanjutan, dan terintegrasi," ujarnya.

Logan juga menyinggung perubahan lanskap pasar nikel global setelah gejolak yang terjadi di London Metal Exchange (LME) pada 2022.

Menurut dia, lonjakan produksi nikel Indonesia membuat sejumlah produk nikel kelas dua seperti NPI, MHP, dan nikel sulfat tidak lagi memiliki korelasi kuat dengan harga LME.

"Mekanisme harganya runtuh. Saat itulah semua orang menyadari bahwa nikel kelas dua tidak lagi memiliki keterkaitan dengan LME," katanya.

Karena itu, pelaku industri kini semakin banyak menggunakan indeks harga independen yang dinilai lebih mencerminkan kondisi transaksi aktual di pasar.

Sebagai informasi, SMM merupakan lembaga Price Reporting Agency (PRA) independen yang berdiri sejak 1999. 

Perusahaan tersebut telah menerbitkan puluhan harga acuan logam dan mineral global serta membuka kantor di Jakarta pada 2024 untuk memperkuat cakupan pasar Indonesia yang kini menjadi pusat pertumbuhan industri nikel dunia.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra

Tag Terkait: