Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Gejolak Global Picu Risiko Siber, Indonesia Hadapi 182 Serangan per Detik

Gejolak Global Picu Risiko Siber, Indonesia Hadapi 182 Serangan per Detik Kredit Foto: Ist

PT ITSEC Asia Tbk (CYBR) menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa keamanan siber telah menjadi kebutuhan fundamental dalam mendukung transformasi digital nasional.

Presiden Direktur ITSEC Asia Patrick Dannacher mengatakan tekanan ekonomi global tidak mengurangi aktivitas pelaku ancaman siber. Sebaliknya, kondisi tersebut justru meningkatkan risiko ketika organisasi mengurangi investasi pertahanan digital.

“Tekanan ekonomi global tidak menghentikan laju kejahatan siber, justru sebaliknya. Ketika anggaran pertahanan dibekukan dan kewaspadaan menurun, pelaku ancaman melihat peluang. Indonesia, dengan lebih dari 3,6 miliar serangan yang tercatat dalam setahun terakhir, berada dalam kondisi yang tidak lagi bisa ditangani dengan pendekatan reaktif,” kata Patrick.

Secara global, Gartner memperkirakan belanja keamanan informasi mencapai US$213 miliar pada 2025. Meski demikian, laju pertumbuhan anggaran keamanan siber melambat menjadi sekitar 4% dibandingkan 8% pada tahun sebelumnya akibat tekanan inflasi dan ketidakpastian ekonomi.

Laporan World Economic Forum (WEF) juga menunjukkan sebanyak 54% organisasi besar menilai kerentanan rantai pasok sebagai tantangan terbesar dalam menjaga ketahanan siber.

Di Indonesia, kebutuhan penguatan keamanan digital juga didorong perkembangan regulasi. Implementasi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP), pembahasan Rancangan Undang-Undang Keamanan dan Ketahanan Siber (RUU KKS) yang masuk Prolegnas Prioritas 2026, serta penyusunan peta jalan kecerdasan buatan nasional diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan layanan keamanan siber di berbagai sektor.

Baca Juga: ITSEC Asia (CYBR) Percepat Ekspansi Bisnis Siber Berbasis AI pada 2026 

Baca Juga: ITSEC Asia (CYBR) Bukukan Laba Rp65,4 Miliar pada 2025

Patrick menilai transformasi digital yang berlangsung cepat membutuhkan fondasi keamanan yang setara kuatnya agar tidak menimbulkan kerentanan baru bagi dunia usaha maupun sektor publik.

“Indonesia sedang berada pada momentum penting yang akan menentukan arah transformasi digital nasional. Kecepatan transformasi yang didorong oleh pemerintah dan sektor swasta membutuhkan pondasi keamanan yang setara kuatnya. ITSEC Asia hadir untuk memastikan bahwa pertumbuhan digital Indonesia tidak rapuh di bawahnya dan bahwa kepercayaan investor terhadap ekosistem digital nasional memiliki landasan yang solid,” ujarnya.

Halaman:

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Annisa Nurfitri