Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rocky Gerung: Klaim Kerugian Rp5,2 Triliun Kasus Nadiem Hanya Infotainment

Rocky Gerung: Klaim Kerugian Rp5,2 Triliun Kasus Nadiem Hanya Infotainment Kredit Foto: Wafiyyah Amalyris K
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pengamat politik Rocky Gerung menilai penyebutan potensi kerugian negara Rp5,2 triliun dalam kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook dan Chrome Device Management (CDM) yang menjerat mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim hanyalah bentuk infotainment.

Menurut Rocky, angka tersebut sekadar untuk membuat publik geger, sebab hingga kini Chromebook masih digunakan secara aktif di puluhan ribu sekolah di seluruh Indonesia.

"Menyebut 5 triliun itu betul-betul infotainment aja tuh, itu entertainment tuh. Iya bukan sekadar entertainment, infotainment itu. Jadi diberitakan supaya orang geger," ungkap Rocky, dikutip dari YouTube Total Politik, Kamis (4/6).

Ia mempertanyakan dasar klaim kerugian negara, karena perangkat Chromebook masih berfungsi dan dipakai oleh guru maupun siswa.

"Apa dasarnya 5 triliun itu? "Potensi kerugian negara", sementara negara enggak merugi. Kenapa? Ya si Chrome-nya (Chromebook) masih dipakai terus-menerus. Jadi setiap kali si Chrome itu dipakai oleh si murid, oleh si guru di pelosok-pelosok, kerugian negara bertambah kan? Ngacau tuh," imbuhnya.

Sebagai informasi, salah satu dakwaan jaksa dalam persidangan adalah Nadiem merugikan negara triliunan rupiah akibat memaksakan sistem Chrome Device Management (CDM) dan melakukan mark-up harga laptop.

Baca Juga: Rocky Gerung Bongkar Motif Tersembunyi Jaksa di Kasus Nadiem

Namun tuntutan tersebut dianggap bermasalah karena berdasarkan Laporan Hasil Audit (LHA) yang diajukan jaksa dinilai cacat metodologi karena sengaja merekayasa kalkulasi. 

Berdasarkan fakta persidangan, pemilihan skema kombinasi Chromebook justru menghemat anggaran negara hingga Rp3,9 triliun jika dibandingkan dengan opsi pengadaan berbasis sistem operasi Windows yang jauh lebih mahal. 

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya