- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
Jangan Asal Beli Saat Harga Turun, Investor Harus Belajar Hindari 'Pisau Jatuh'
Kredit Foto: BNI Sekuritas
Volatilitas pasar saham mendorong investor ritel untuk tidak hanya berfokus pada potensi keuntungan, tetapi juga membangun disiplin dalam mengelola risiko. Salah satu pelajaran yang banyak ditemui investor adalah menghindari praktik membeli saham semata-mata karena harga turun atau dikenal dengan istilah “menangkap pisau jatuh” (catching a falling knife).
Pengalaman tersebut dialami Alfian Limardi, investor ritel yang menjadi nasabah BNI Sekuritas sejak 2016. Awalnya, ia menerapkan strategi investasi jangka panjang dengan membeli saham dan berharap memperoleh imbal hasil dari dividen.
“Saya dulu lebih ke investor jangka panjang. Beli saham, simpan, berharap dividen,” ujarnya.
Seiring waktu, Alfian mulai melihat bahwa pasar saham menawarkan berbagai pendekatan selain investasi jangka panjang. Pengalaman mengikuti pendidikan di luar negeri dan berdiskusi dengan rekan yang aktif di pasar modal memperluas pandangannya mengenai aktivitas perdagangan saham yang dapat dilakukan secara fleksibel melalui platform digital.
“Jual/beli saham itu bisa dilakukan di mana saja, selama ada internet,” katanya.
Namun, menurut Alfian, perpindahan dari pola investasi jangka panjang menuju aktivitas trading tidak serta-merta membuat proses pengambilan keputusan menjadi lebih mudah. Ia menilai investor tetap membutuhkan pemahaman mengenai manajemen risiko dan disiplin dalam menentukan strategi transaksi.
Untuk memperdalam pemahaman tersebut, Alfian mulai mengikuti berbagai sesi live trading yang diselenggarakan BNI Sekuritas. Melalui forum tersebut, ia memperoleh panduan mengenai penggunaan level support dan resistance, target keuntungan, hingga batas kerugian atau cut loss.
Baca Juga: 54 Persen Investor Pasar Modal Indonesia Adalah Gen Z
Baca Juga: Investor Amerika Kena Batunya, Pom-Pom Saham di Medsos Berujung ke Meja Pengadilan
“Sebagai trader, kami diajarkan untuk menentukan batas atas (resistance) dan batas bawah (support). Juga rekomendasi profit atau cut loss,” ujarnya.
Menurut Alfian, salah satu tantangan terbesar investor ritel justru berasal dari faktor psikologis ketika pasar bergerak fluktuatif. Dalam kondisi harga saham turun tajam, investor sering terdorong untuk segera membeli tanpa mempertimbangkan risiko lanjutan.
“Kadang kita gelap mata. Melihat turun langsung ingin ambil,” katanya.
Dari proses pembelajaran tersebut, Alfian mengaku semakin memahami prinsip yang sering digunakan pelaku pasar, yakni tidak terburu-buru membeli saham yang sedang mengalami tekanan harga.
Ia menilai diskusi dengan analis dan sesama investor membantu memberikan perspektif tambahan sebelum mengambil keputusan investasi, termasuk dalam menentukan waktu masuk (entry point) yang lebih terukur.
Selain memanfaatkan sesi diskusi, Alfian juga menggunakan berbagai perangkat teknologi untuk mendukung proses analisis. Dalam aktivitas hariannya, ia memanfaatkan aplikasi BIONS, fitur trading ideas, fasilitas charting yang terhubung dengan TradingView, serta sejumlah indikator teknikal untuk memantau pergerakan harga saham.
Meski demikian, Alfian menekankan bahwa teknologi hanya berfungsi sebagai alat bantu. Keputusan investasi tetap harus didasarkan pada analisis dan kesadaran terhadap risiko yang melekat pada setiap transaksi.
Menurutnya, keberadaan ruang diskusi dan pendampingan memberikan manfaat tidak hanya bagi investor yang mencari peluang baru, tetapi juga bagi mereka yang tengah mengevaluasi portofolio yang sudah dimiliki.
“Kalau rekomendasi itu membantu, tapi konsultasi portofolio juga penting. Kita bisa tanya saham yang sudah kita pegang, itu diapakan,” ujarnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: