Kredit Foto: Antara/Ari Bowo Sucipto
Evakuasi pendaki remaja berinisial C (18) yang terjatuh ke jurang di sisi barat Gunung Semeru masih terus berlangsung hingga Kamis (4/6/2026). Korban telah terjebak selama empat hari sejak insiden terjadi pada Senin (1/6).
Peristiwa bermula pada Senin pagi sekitar pukul 10.00 WIB saat C mengirimkan kabar darurat kepada keluarganya. Dalam pesan tersebut, ia menginformasikan bahwa dirinya terjatuh di lereng Gunung Semeru dan membutuhkan pertolongan segera.
Mendapat informasi tersebut, ayah korban langsung berupaya melakukan pencarian. Berbekal titik koordinat terakhir yang dikirimkan korban, pada Senin malam pukul 22.00 WIB ia bersama enam warga setempat memulai pencarian secara mandiri dengan menembus kawasan hutan Semeru.
Usaha tersebut membuahkan hasil pada Selasa pagi ketika posisi korban berhasil ditemukan. Namun, proses evakuasi tidak dapat langsung dilakukan karena medan yang sangat berat dan sulit dijangkau.
Koordinator Unit Siaga SAR Malang Raya, Imam Nahrowi, menjelaskan bahwa korban berada di dalam jurang dengan kedalaman sekitar 300 meter. Lokasi tersebut memiliki kemiringan yang sangat curam dan hampir menyerupai dinding vertikal.
“Medan yang dilalui sangat berat dengan kontur terjal serta jurang curam, sehingga tim harus berhati-hati dalam setiap pergerakan,” ujarnya.
Menurut Imam, korban mengalami pembengkakan cukup serius pada pergelangan kaki kanan akibat terjatuh sehingga kesulitan bergerak secara mandiri. Meski demikian, tim berhasil menjangkau lokasi korban untuk memberikan bantuan awal.
Sebanyak tiga warga bersama dua rekan korban telah turun ke dalam jurang dan mencapai posisi korban. Saat ini terdapat enam orang di lokasi bawah jurang, sementara sekitar 30 personel SAR gabungan bersiaga di atas tebing untuk mempersiapkan proses evakuasi.
“Rencana evakuasi akan dilakukan menggunakan metode hauling system,” kata Imam.
Proses penyelamatan sempat mengalami hambatan akibat kondisi cuaca dan medan. Pada malam hari, pergerakan tim terpaksa dihentikan karena kabut tebal yang mengurangi jarak pandang dan meningkatkan risiko keselamatan petugas.
Selain faktor cuaca, keterbatasan peralatan juga menjadi kendala dalam upaya evakuasi. Kepala Kantor SAR Surabaya, Nanang Sigit, mengatakan pihaknya telah mengirimkan tim tambahan beserta perlengkapan khusus untuk mempercepat proses penyelamatan.
Peralatan yang didatangkan antara lain perangkat High Angle Rescue Technique (HART) untuk operasi penyelamatan di medan berketinggian ekstrem serta perangkat komunikasi Starlink guna memastikan koordinasi antarpetugas tetap berjalan lancar di area yang sulit terjangkau sinyal.
Menurut Nanang, tambahan peralatan tersebut diharapkan dapat mempercepat proses pengangkatan korban dari dasar jurang.
“Medan Gunung Semeru memiliki banyak jalur terjal dan jurang curam sehingga seluruh personel harus bekerja dengan tingkat kewaspadaan tinggi,” ujarnya.
Dari hasil penelusuran, diketahui korban saat kejadian melakukan pendakian bersama dua rekannya melalui jalur Candi Jawar di Desa Argoyuwono, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang. Jalur tersebut bukan merupakan jalur resmi pendakian Gunung Semeru.
Baca Juga: Negara Digugat Wajib Biayai Pesantren, Hakim Ingatkan Harus Siap 'Diatur'
Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Rudijanta Tjahja Nugraha, menegaskan bahwa aktivitas pendakian menuju puncak Semeru hingga saat ini masih ditutup untuk umum karena pertimbangan keselamatan terkait aktivitas vulkanik.
“Jalur yang digunakan bukan merupakan jalur resmi. Hingga saat ini, pendakian masih ditutup demi keselamatan,” tegas Rudijanta.
Sementara itu, dua rekan korban dilaporkan selamat. Tim SAR gabungan saat ini terus berupaya mengevakuasi korban agar dapat segera mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: