Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Tak Cuma Naikkan BI Rate, Perry Warjiyo Siapkan Paket Lengkap untuk Selamatkan Rupiah

Tak Cuma Naikkan BI Rate, Perry Warjiyo Siapkan Paket Lengkap untuk Selamatkan Rupiah Kredit Foto: Youtube: Bank Indonesia
Warta Ekonomi, Jakarta -

Bank Indonesia (BI) tidak hanya mengandalkan kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate untuk meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang belakangan terus melemah.

Setelah menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen, bank sentral juga mengeluarkan serangkaian kebijakan tambahan yang ditujukan untuk memperkuat stabilitas rupiah dan menarik kembali aliran dana asing ke pasar keuangan domestik.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan kenaikan suku bunga perlu didukung berbagai instrumen moneter lain agar dampaknya lebih efektif dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Menurut Perry, langkah tersebut sekaligus bertujuan meningkatkan daya tarik aset keuangan Indonesia di mata investor global yang tengah menghadapi ketidakpastian akibat gejolak ekonomi dan konflik geopolitik internasional.

“Bank Indonesia juga menempuh langkah-langkah penguatan stabilisasi nilai tukar rupiah dengan meningkatkan imbal hasil dan sejumlah insentif lain dalam operasi moneter bagi masuknya aliran investasi asing,” ujar Perry dalam keterangan tertulis, Selasa (9/6/2026).

Salah satu langkah yang ditempuh adalah menaikkan tingkat imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk seluruh tenor, mulai dari enam bulan, sembilan bulan, hingga 12 bulan.

Kebijakan tersebut dilakukan melalui mekanisme pasar dengan tujuan membuat instrumen keuangan domestik tetap kompetitif dibandingkan instrumen investasi di negara lain.

BI juga memberikan insentif baru berupa penurunan biaya hedging swap atau lindung nilai sebesar 10 persen bagi investor asing.

Kebijakan ini diharapkan mampu meningkatkan minat investor global untuk menempatkan dananya di Indonesia karena biaya perlindungan terhadap risiko nilai tukar menjadi lebih murah.

Selain membidik investor asing, BI juga menyiapkan langkah untuk menjaga kondisi likuiditas perbankan nasional agar tetap memadai setelah kenaikan suku bunga.

Bank sentral membuka kembali lelang instrumen repurchase agreement atau repo untuk tenor tiga bulan, enam bulan, sembilan bulan, dan 12 bulan.

Instrumen tersebut akan menjadi salah satu alat utama BI dalam memastikan kebutuhan likuiditas perbankan tetap terjaga di tengah kebijakan pengetatan moneter.

Perry menjelaskan langkah tersebut juga dilakukan untuk menjaga pertumbuhan uang primer atau M0 tetap berada di atas 10 persen.

Dengan likuiditas yang tetap terjaga, sektor perbankan diharapkan dapat terus menjalankan fungsi intermediasi dan mendukung aktivitas ekonomi nasional.

Tidak berhenti di situ, BI juga meningkatkan intensitas operasi moneter baik di pasar rupiah maupun pasar valuta asing.

Untuk instrumen rupiah, lelang SRBI kini dilakukan dua kali dalam sepekan guna memperkuat pengelolaan likuiditas di pasar uang.

Sementara di pasar valas, BI memperkuat intervensi melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri.

Langkah tersebut dilakukan untuk meredam volatilitas nilai tukar dan menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi.

Perry menegaskan penguatan kebijakan moneter tidak dilakukan sendiri oleh Bank Indonesia.

Bank sentral juga memperkuat koordinasi dengan pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan, untuk memastikan stabilitas ekonomi tetap terjaga.

Koordinasi tersebut telah dibahas dalam pertemuan antara BI dan Kementerian Keuangan pada 6 Juni 2026 lalu.

Fokus kerja sama itu mencakup peningkatan daya tarik investasi portofolio asing pada instrumen SRBI dan Surat Berharga Negara (SBN), sekaligus menjaga kecukupan likuiditas pasar uang melalui pengelolaan kas pemerintah.

Baca Juga: Gubernur BI Bongkar Alasan Tiba-tiba Kerek Suku Bunga Acuan Jadi 5,50%

Menurut Perry, sinergi kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci penting dalam menghadapi gejolak global yang saat ini menekan banyak negara berkembang.

“Koordinasi fiskal-moneter yang sudah kuat selama ini terus akan diperkuat dari waktu ke waktu dan dilakukan secara berkesinambungan untuk saling mendukung dan seirama dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Perry.

Melalui kombinasi kenaikan suku bunga dan berbagai instrumen tambahan tersebut, Bank Indonesia berharap stabilitas rupiah dapat kembali terjaga sekaligus memperkuat kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama