Hubungan Mulai Retak, Wakil Trump Akui Amerika dan Israel Tak Selalu Sejalan Soal Iran
Kredit Foto: Istimewa
Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang selama ini dikenal sangat erat mulai menunjukkan tanda-tanda keretakan. Wakil Presiden AS JD Vance secara terbuka mengakui bahwa Washington dan Tel Aviv tidak selalu memiliki kepentingan yang sama, terutama terkait kebijakan terhadap Iran.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu pengakuan paling terang dari pejabat tinggi pemerintahan Presiden Donald Trump di tengah meningkatnya perbedaan pandangan antara kedua sekutu tersebut mengenai arah konflik di Timur Tengah.
Baca Juga: Persulit Tim hingga Ofisial, Ini Respons Amerika Soal Aturan Kontroversial di Piala Dunia 2026
Vance menegaskan bahwa meskipun Amerika Serikat dan Israel memiliki banyak kepentingan bersama, keduanya tetap memiliki prioritas yang berbeda dalam menghadapi Iran.
"Israel dan Amerika Serikat memiliki banyak kepentingan yang sama, tetapi ada juga beberapa situasi di mana kepentingan kami berbeda," kata Vance, dikutip Kamis (11/6).
Ia menjelaskan bahwa fokus utama pemerintahan Trump saat ini adalah memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir, terlepas dari berbagai tujuan lain yang mungkin dimiliki Israel.
"Saya pikir Presiden sudah sangat jelas. Israel tentu memiliki sejumlah tujuan sendiri, tetapi tujuan utama Amerika Serikat terhadap Iran adalah memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir," ujarnya.
Pernyataan tersebut muncul ketika hubungan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan mengalami ketegangan dalam beberapa pekan terakhir.
Salah satu pemicu terbaru adalah laporan intelijen Amerika Serikat yang mengungkap kekhawatiran terkait dugaan aktivitas pengawasan yang dilakukan Israel terhadap para pejabat Amerika yang terlibat dalam perundingan damai dengan Iran.
Menurut sejumlah laporan, figur penting yang diduga menjadi sasaran pemantauan antara lain pejabat kebijakan tertinggi Pentagon Elbridge A. Colby dan negosiator utama pemerintahan Trump untuk Iran, Steve Witkoff.
Situasi itu semakin memperkuat kesan bahwa Washington dan Tel Aviv mulai mengambil jalur berbeda dalam menangani isu Iran, khususnya terkait negosiasi damai yang masih berlangsung.
Tanda keretakan hubungan juga terlihat dari pengakuan Trump sendiri yang sebelumnya membenarkan adanya percakapan telepon bernada keras dengan Netanyahu.
Dalam percakapan tersebut, Trump disebut melontarkan kata-kata kasar kepada Netanyahu terkait operasi militer Israel di Lebanon. Pengakuan itu memunculkan spekulasi bahwa hubungan personal kedua pemimpin yang selama ini dianggap solid mulai mengalami tekanan serius.
Di tengah upaya Amerika Serikat melanjutkan negosiasi dengan Iran, Israel justru terus meningkatkan aktivitas militernya di kawasan. Perbedaan pendekatan itulah yang kini dinilai menjadi sumber utama gesekan antara kedua negara.
Baca Juga: 'Mereka Merasa Sedang Menang,' Iran Berubah Drastis hingga Bikin Retak Hubungan Amerika dan Israel
Meski belum mengarah pada perpecahan terbuka, pengakuan JD Vance menunjukkan bahwa di balik citra hubungan istimewa Amerika Serikat dan Israel, terdapat perbedaan kepentingan strategis yang semakin sulit disembunyikan, terutama ketika menyangkut masa depan Iran dan stabilitas kawasan Timur Tengah.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: