Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bu Connie Khawatir Banget Kopdes Merah Putih Nasibnya Mangkrak Seperti IKN

Bu Connie Khawatir Banget Kopdes Merah Putih Nasibnya Mangkrak Seperti IKN Kredit Foto: Tangkapan layar video YouTube Refly Harun
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pengamat pertahanan dan geopolitik Connie Rahakundini Bakrie mengkhawatirkan pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih) berpotensi mangkrak atau stagnan seperti proyek Ibu Kota Nusantara (IKN).

Kekhawatiran itu disampaikan Connie saat berbincang dengan Hendri Satrio dalam sebuah podcast. Ia mempertanyakan keberlanjutan Kopdes Merah Putih setelah pembangunan fisiknya selesai, terutama karena menemukan sejumlah bangunan Kopdes yang menurutnya berada di lokasi tidak strategis atau hampir ia sebut tak masuk akal.

Connie mengaku melihat bangunan Kopdes Merah Putih ketika melakukan perjalanan dari dan menuju Subang dan Prabu Ratu arah Sukabumi. Menurut dia, sejumlah bangunan tersebut dibangun di lokasi yang dinilai tidak masuk akal untuk menunjang aktivitas ekonomi masyarakat.

Ia menyebut ada bangunan Kopdes yang berada di tengah lapangan sepak bola, di samping sekolah dasar yang kondisinya hampir roboh, di tepi jurang atau tebing, hingga di tengah kebun sawit.

"Jadi saya bertanya-tanya, kalau IKN saja bisa jadi mangkrak... Boleh nggak saya bilang IKN itu stalled (terhenti/stagnan)? ," kata Connie.

Ia kemudian mempertanyakan apakah Kopdes Merah Putih akan mengalami nasib serupa setelah pemerintah mengejar target pembangunan.

"Nah, Kopdes ini nanti apakah akan ditinggalkan sementara, setelah 2029 bagaimana?" ujarnya.

Connie juga mempertanyakan siapa yang akan menggunakan bangunan-bangunan tersebut jika lokasinya tidak mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.

"Karena saya pikir: siapa yang mau datang ke tempat-tempat seperti itu? Saya tidak menemukan jawabannya," kata Connie.

Connie mengakui gagasan utama Kopdes Merah Putih memiliki tujuan yang menurutnya dapat dipahami. Ia menyebut koperasi desa diharapkan dapat membantu petani mengurangi ketergantungan terhadap tengkulak atau perantara dalam rantai distribusi hasil pertanian.

Dengan skema tersebut, koperasi dapat membeli hasil produksi petani dan menyalurkannya kepada masyarakat sehingga rantai distribusi menjadi lebih pendek dan harga diharapkan lebih adil.

Namun, Connie mempertanyakan penerapan konsep tersebut di lapangan. Menurut dia, keberadaan bangunan fisik saja tidak cukup apabila lokasi dan pengelolaannya tidak mampu mendukung aktivitas koperasi.

Ia juga menyoroti desain sejumlah bangunan Kopdes yang menurutnya memiliki ciri khas berupa rolling door berwarna merah. Meski menganggap desain tersebut menarik, Connie mempertanyakan fungsi bangunan apabila tidak berada di lokasi yang mudah diakses masyarakat.

Selain persoalan lokasi, Connie menyoroti pola pelatihan calon pengelola Kopdes Merah Putih yang menurutnya menggunakan pendekatan semi-militer.

Ia menyinggung adanya yel-yel bergaya militer dalam pelatihan calon pengelola koperasi. Menurut Connie, pendekatan tersebut justru dapat menimbulkan kesan yang membuat sebagian masyarakat tidak nyaman terhadap program tersebut.

Connie Pertanyakan Prioritas Pemerintah

Connie juga mengkritik prioritas pembangunan Kopdes Merah Putih di tengah kondisi ekonomi yang menurutnya sedang mengkhawatirkan.

Ia menilai pemerintah masih menghadapi sejumlah persoalan mendesak, mulai dari rendahnya pendapatan guru, kekhawatiran masyarakat terhadap biaya hidup, hingga beban program pemerintah yang membutuhkan anggaran besar.

Connie turut menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menegaskan dirinya bukan anti-MBG, tetapi menurutnya pemerintah harus berani mengevaluasi atau menghentikan program apabila dalam pelaksanaannya ditemukan persoalan serius.

Menurut Connie, pembangunan ribuan Kopdes Merah Putih di lokasi yang dinilai tidak strategis justru menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas penggunaan anggaran dan manfaat langsung bagi masyarakat.

"Apakah Kopdes Merah Putih benar-benar akan menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat desa atau justru berakhir sebagai bangunan yang tidak dimanfaatkan secara optimal," katanya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat