Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Dalam skala armada, selisih harga tersebut menjadi signifikan. Jika perusahaan menjual 20 unit kendaraan dengan selisih rata-rata Rp15 juta per unit, potensi nilai aset yang hilang dapat mencapai Rp300 juta.
Transparansi Data Jadi Kunci
Di sisi lain, menjual langsung kepada pengguna akhir berpotensi menghasilkan harga yang lebih tinggi karena tidak ada margin dealer yang harus dibagi.
Meski demikian, calon pembeli biasanya melakukan pemeriksaan lebih rinci terhadap kondisi kendaraan, mulai dari riwayat kecelakaan, potensi bekas banjir, kondisi mesin, kebocoran oli, hingga catatan servis berkala.
Persoalannya, tidak semua perusahaan memiliki dokumentasi kondisi kendaraan yang lengkap dan terdokumentasi dengan baik. Akibatnya, proses negosiasi menjadi lebih panjang, pembeli ragu mengambil keputusan, dan harga jual berisiko terus ditekan.
CEO Garasi.id Ardy Alam mengatakan salah satu faktor yang sering menyebabkan harga kendaraan turun saat proses penjualan adalah minimnya data pendukung mengenai kondisi kendaraan.
"Banyak perusahaan sebenarnya tidak rugi karena mobilnya jelek, tapi karena tidak punya data yang bisa membuktikan kondisi kendaraan secara profesional. Akhirnya harga ditekan terus saat negosiasi," ujarnya di Jakarta, Minggu (14/6/2026).
Menurut Ardy, laporan inspeksi kendaraan dapat membantu calon pembeli maupun showroom memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi mobil sehingga proses penentuan harga menjadi lebih objektif.
Ia menilai inspeksi tidak hanya berfungsi untuk mengetahui kondisi teknis kendaraan, tetapi juga dapat menjadi instrumen untuk menjaga nilai aset saat kendaraan akan dijual kembali.
Baca Juga: Penjualan Mobil Melejit 55%, Pembiayaan Multifinance Tembus Rp290,97 Triliun
Baca Juga: Penjualan Mobil Astra Naik, Asuransi Astra Ikut Kecipratan Untung
"Banyak perusahaan baru menjual kendaraan ketika biaya sudah tinggi dan nilainya turun jauh. Padahal, dengan adanya inspeksi mobil, konsumen bisa mempunyai data yang tepat, keputusan bisa diambil lebih cepat dan jauh lebih menguntungkan," kata Ardy.
Karena itu, pengelolaan armada tidak hanya berkaitan dengan penggunaan kendaraan sehari-hari, tetapi juga menyangkut strategi menentukan waktu terbaik untuk mempertahankan atau melepas aset agar nilainya tidak tergerus lebih dalam.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: