- Home
- /
- EkBis
- /
- Agribisnis
Prabowo Minta Lonjakan Harga Pangan Ditekan, Kementan Gandeng Kopdes Merah Putih Bangun Cold Storage
Kredit Foto: Muhammad Farhan Shatry
Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkapkan lemahnya infrastruktur rantai pasok pendingin (cold chain) menjadi salah satu penyebab utama fluktuasi harga komoditas pangan segar seperti cabai, bawang merah, sayuran, buah-buahan, hingga protein hewani di pasar tradisional.
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengatakan kendala terbesar dalam upaya stabilisasi harga pangan menggunakan instrumen negara maupun BUMN terletak pada penanganan komoditas segar yang memiliki masa simpan terbatas. Akibatnya, risiko kerusakan dan pembusukan selama distribusi masih tinggi sehingga pasokan di pasar kerap berfluktuasi.
“Nah yang menjadi kendala metode menggunakan instrumen BUMN atau negara ini adalah untuk barang-barang fresh. Ya cabai, bawang merah, kemudian yang fresh-fresh ini, sayur dan seterusnya itu, itu kendalanya adalah cold chain,” ujar Sudaryono kepada awak media di Kantor Kementerian Pertanian, Rabu (17/6/2026).
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan Kementan memperkuat sistem penyimpanan dan distribusi komoditas pangan segar melalui pembangunan jaringan cold chain di berbagai daerah.
Menurut Sudaryono, keberadaan rantai pendingin akan menjaga kualitas komoditas selama proses distribusi sekaligus mengurangi potensi kehilangan pasokan akibat pembusukan. Infrastruktur tersebut akan mencakup penyediaan cold storage yang melibatkan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
“Cold chain ini nanti berguna di untuk fresh, misalnya daging ayam, daging sapi, daging kerbau, kemudian telur, kemudian sayur-sayuran, buah-buahan, dan lain-lain. Yang salah satunya juga melibatkan Koperasi Desa Merah Putih itu ada cold storage-nya,” katanya.
Ia menjelaskan, pembangunan rantai pendingin ditujukan untuk memperlancar arus distribusi pangan dari sentra produksi ke wilayah konsumsi, sekaligus menyerap hasil pertanian dan peternakan dari desa agar tetap terjaga kualitasnya saat dipasarkan ke kota.
“Jadi membangun cold chain ini dalam rangka untuk bagaimana membawa barang dari produsen di kota ke desa, dan bagaimana meng-absorb barang-barang fresh, baik itu peternakan maupun sayur dan buah, termasuk cabai hortikultura, itu dari desa dibawa dalam bentuk yang baik ke kota,” ujar Sudaryono.
Kebutuhan penguatan infrastruktur rantai dingin juga tercermin dari masih terbatasnya kapasitas gudang pendingin nasional. Sebelumnya, CEO dan Founder Fresh Factory Larry Ridwan menyebut Indonesia masih mengalami kekurangan kapasitas cold storage yang berdampak pada tingginya risiko kehilangan hasil pangan dan food waste.
Mengacu pada data Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI), kapasitas gudang pendingin nasional saat ini sekitar 2,8 juta palet, sedangkan kebutuhan mencapai 4 juta palet. Artinya, terdapat kekurangan kapasitas sekitar 1,2 juta palet yang berpotensi menghambat distribusi komoditas pangan segar dan menjaga kestabilan pasokan di pasar.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Muhammad Farhan Shatry
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: