- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
MIND ID Soroti Tantangan Hilirisasi Mineral, Pasar Domestik Harus Siap Menyerap
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Sementara itu, Direktur Indef Green Transition Initiative (Indef GTI), Imaduddin Abdullah, menilai pemerintah perlu melakukan intervensi dalam mendorong hilirisasi dari sisi hilir. Menurutnya, langkah tersebut diperlukan agar manfaat hilirisasi terhadap penciptaan lapangan kerja semakin besar.
Imaduddin mengatakan, industri mineral dan turunannya saat ini masih didominasi industri padat modal (capital intensive), sehingga penyerapan tenaga kerja masih relatif terbatas.
“Nah, jadi kemarin kita lihat bahwa industri mineral dan turunannya itu memang cenderung capital intensive (padat modal). Jadi karena capital intensive itu makanya menyerap tenaga kerja yang lebih sedikit dibandingkan industri-industri lainnya,” ujarnya.
Menurut Imaduddin, pemerintah perlu memperkuat rantai pasok domestik agar pertumbuhan industri mineral juga mendorong sektor pendukung.
“Satu menurut saya adalah penguatan rantai pasok di dalam negeri atau domestik. Jadi dengan adanya industri mineral yang tumbuh, itu bisa menyerap tenaga kerja lebih banyak lagi industri pendukung, misalnya katakanlah jasa transportasi, jasa akomodasi (kan setiap misalnya katakanlah industri mineral kayak smelter gitu butuh katering dan sebagainya),” katanya.
Namun, ia menilai penguatan sektor pendukung saja belum cukup. Pemerintah perlu mendorong pengembangan industri hingga tahap hilir agar nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja meningkat.
“Jadi sebenarnya kita melihat bahwa pemerintah ini harus segera mendorong nggak cuma di hulu saja, tapi segera masuk ke midstream dan masuk ke hilir, sehingga penyerapan tenaga kerjanya bisa lebih banyak lagi seperti itu,” katanya.
Selain pengembangan industri hilir, Imaduddin menyebut penguasaan teknologi juga menjadi tantangan dalam proses hilirisasi mineral nasional.
Menurutnya, Indonesia perlu menggandeng berbagai pihak, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk memperkuat kemampuan teknologi nasional.
“Makanya kita berharap kan ada Badan Industri Mineral, lalu juga ada Satgas Percepatan Hilirisasi gitu ya, dan menurut saya juga BRIN punya kontribusi yang besar untuk gimana caranya teknologi itu kita tidak lagi bergantung ke luar negeri, tapi juga punya dari dalam negeri untuk bisa mandiri lah secara teknologi seperti itu,” pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra