Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

'2000 Amunisi ke Ribuan Sasaran,' Begini Kemampuan Grok Elon Musk Bantu Serangan Amerika ke Iran

'2000 Amunisi ke Ribuan Sasaran,' Begini Kemampuan Grok Elon Musk Bantu Serangan Amerika ke Iran Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengungkap kemampuan luar biasa kecerdasan buatan (AI) Grok milik Elon Musk yang digunakan untuk mendukung operasi militer terhadap Iran.

Kepala Bidang AI Pentagon, Cameron Stanley menyebut model Grok telah diintegrasikan ke dalam Project Maven yang mana merupakan sistem penargetan militer berbasis AI milik AS. Ia mengungkapkan bahwa teknologi tersebut memberikan lonjakan besar dalam efisiensi operasional militer.

Baca Juga: 'FIFA Tak Bisa Apa-apa,' Iran Dibiarkan Sendiri Hadapi Kebijakan Amerika di Piala Dunia 2026

"Sistem Cerdas Maven memungkinkan pasukan AS meluncurkan lebih dari 2.000 amunisi ke 2.000 sasaran berbeda dalam waktu 96 jam selama Operasi Epic Fury," ujarnya, dikutip Jumat (19/6).

Operation Epic Fury merupakan kampanye serangan besar-besaran yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran pada 2026.

Menurut Stanley, penggunaan model Grok Gov milik xAI secara signifikan meningkatkan kemampuan identifikasi target, pemrosesan data intelijen, dan kecepatan pengambilan keputusan di medan perang.

Kemampuan tersebut memungkinkan militer AS memproses informasi dalam jumlah sangat besar dan mengoordinasikan serangan ke ribuan sasaran dalam waktu singkat, sesuatu yang sebelumnya membutuhkan waktu jauh lebih lama.

Sebelum menggunakan Grok, Project Maven didukung oleh model Claude milik Anthropic. Namun, pemerintah AS menghentikan kerja sama dengan Anthropic pada Februari 2026 setelah perusahaan tersebut menolak penggunaan AI untuk serangan otomatis dan pengawasan massal.

Pentagon kemudian mengalihkan pengembangan AI militernya kepada sejumlah perusahaan teknologi lain, termasuk Google, OpenAI, dan xAI.

Pengungkapan kemampuan Grok ini muncul di tengah gugatan hukum terhadap xAI yang diajukan oleh National Association for the Advancement of Colored People (NAACP) di Amerika Serikat.

Organisasi hak sipil tersebut menuduh xAI mengoperasikan puluhan turbin gas tanpa izin dan mencemari kawasan permukiman yang mayoritas dihuni warga Afrika-Amerika.

Namun, Departemen Kehakiman AS justru menggunakan peran strategis Grok dalam operasi militer sebagai alasan untuk mempertahankan keberadaan infrastruktur pusat data xAI.

Baca Juga: 'Tak Perlu Runtuhkan Setiap Gedung,' Presiden Amerika Nilai Taktik Israel di Lebanon Sangatlah Buruk

Kasus ini menyoroti bagaimana kecerdasan buatan kini bukan lagi sekadar teknologi komersial, melainkan telah menjadi elemen penting dalam strategi peperangan modern, dengan kemampuan memproses ribuan target dan mendukung operasi militer dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar