Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Hasan Nasbi Heran Mahasiswa dan Warganet Gampang Banget Ngomong Aktivis Masuk Istana Langsung Dianggap Penjilat Rezim

Hasan Nasbi Heran Mahasiswa dan Warganet Gampang Banget Ngomong Aktivis Masuk Istana Langsung Dianggap Penjilat Rezim Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, menyoroti fenomena aktivis mahasiswa yang kerap dicap negatif setelah bertransformasi menjadi pejabat publik.

Menurutnya, label seperti 'penjilat rezim' sering kali dialamatkan dengan mudah oleh warganet dan mahasiswa tanpa melihat dinamika kepemimpinan secara jernih.

Hasan menegaskan bahwa keterlibatan para mantan aktivis di dalam birokrasi merupakan bagian dari siklus kepemimpinan yang alamiah demi menjalankan tugas negara.

"Banyak netizen dengan mudah melayangkan label penjilat rezim kepada mereka yang kini memilih bekerja bersama pemerintah. Padahal, jika dilihat dengan akal sehat, dinamika tersebut merupakan bagian dari siklus kepemimpinan yang alamiah," kata Hasan dalam pernyataannya.

Ia menambahkan, berada di dalam sistem pemerintahan merupakan bentuk kontribusi nyata untuk negara, bukan sekadar urusan mencari muka atau tunduk pada kekuasaan.

Hasan menilai fenomena ini sekaligus menjadi refleksi penting bagi para mahasiswa yang saat ini aktif menyuarakan kritik di jalanan. Ia mengingatkan bahwa roda waktu terus berputar dan posisi seseorang bisa berubah di masa depan.

"Mereka yang saat ini mengepalkan tangan menentang kebijakan, belum tahu akan menjadi apa di masa depan. Menurutnya, tidak menutup kemungkinan dalam beberapa tahun ke depan, para mahasiswa tersebut yang justru akan melanjutkan estafet pemerintahan dengan mengisi kursi DPRD hingga kabinet nasional," pungkasnya.

Lebih lanjut, Hasan mengajak publik untuk berhenti melabeli proses politik seseorang dengan narasi hitam-putih. Ia menekankan pentingnya kedewasaan dalam berpolitik dengan cara tidak melupakan sejarah masa muda para pejabat saat ini yang juga pernah menjadi aktivis.

Hasan menggarisbawahi bahwa kritik terhadap kebijakan negara tetap esensial untuk menjaga demokrasi. Namun, menghargai proses transformasi seseorang menjadi jauh lebih utama sebelum posisi kita sendiri yang nantinya berbalik.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ferry Hidayat

Tag Terkait: