Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Aceh Dibidik Investor Migas Global, BPMA Dorong Eksplorasi Baru

Aceh Dibidik Investor Migas Global, BPMA Dorong Eksplorasi Baru Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan

Secara keseluruhan, Nasri menyebut terdapat empat wilayah kerja yang saat ini berada dalam pipeline BPMA. Dua di antaranya sudah masuk proses presentasi di Tim Lelang Wilayah Kerja, sementara dua lainnya masih berada dalam proses administrasi.

“Jadi saat ini sedang berproses dua yang sudah masuk ke joint study area yaitu JOGMEC dan JAPEX, kemudian PT Agra dan konsorsium dengan Maccon, dan dua lagi BUMD untuk PEMA dan perusahaan lokal Putra Indo Manunggal. Artinya ada empat wilayah kerja yang sedang dalam proses. Dua sudah proses presentasi di Tim Lelang Wilayah Kerja, dan dua lagi sedang berproses di administrasi,” ujarnya.

Nasri menilai, respons dari calon mitra asal Jepang, Malaysia, hingga Bahrain menunjukkan bahwa Aceh kembali dilirik sebagai wilayah prospektif untuk investasi hulu migas. Meski demikian, ia menegaskan bahwa proses bisnis migas tidak berlangsung instan.

“Artinya dengan masuknya perusahaan Jepang, Malaysia, Bahrain, itu menunjukkan bahwa Aceh saat ini menjadi pasar potensial untuk investasi di bidang hulu migas,” tegasnya.

Menurut Nasri, keberhasilan awal dalam forum bisnis bukan semata-mata dilihat dari kesepakatan final, melainkan dari munculnya minat resmi, surat letter of intent atau LoI, hingga kunjungan calon investor ke BPMA untuk membahas peluang lebih lanjut.

“Nah artinya ya namanya proses bisnis tidak langsung serta-merta jadi, tapi minimal bagi saya adalah keberhasilan suatu delegasi dalam forum bisnis adalah ketika perusahaan tersebut menyatakan minat dengan surat LoI dan kemudian dia datang ke kantor BPMA untuk berbicara lebih lanjut,” katanya.

Baca Juga: Lampaui Target 2025, Pertamina EP Cepu Catat Total Lifting Migas 94.349 BOEPD

Bagi Nasri, daya tarik migas Aceh tidak cukup hanya ditentukan oleh potensi geologi. Kepercayaan investor, kepastian proses, dan rasa aman menjadi faktor penting agar minat yang muncul dapat berlanjut ke tahap berikutnya.

“Dalam beberapa kegiatan tentu saja wilayah kerja-wilayah kerja ini harus memberikan sesuatu yang potensial. Kemudian harus memberikan insentif yang menarik, kemudian harus memberikan rasa aman bagi investor,” kata Nasri.

Ia menegaskan, BPMA berupaya menunjukkan bahwa Aceh dapat memberikan kenyamanan dan jaminan investasi bagi pelaku usaha. Menurutnya, investasi di sektor hulu migas pada akhirnya sangat bergantung pada kepercayaan.

“Investasi itu masalah trust. Bagaimana kita mau berinvestasi sementara kita enggak percaya sama lembaganya? Kita tidak percaya dengan orangnya?” ujar Nasri.

Nasri memastikan BPMA akan terus membawa potensi migas Aceh ke berbagai forum energi. Menurutnya, Aceh tidak bisa hanya mengandalkan warisan kejayaan Arun, tetapi perlu membuka ruang eksplorasi baru agar potensi migas di darat dan lepas pantai dapat dikembangkan.

“Saya jual (tawarkan migas) Aceh ke mana-mana sampai ke Abu Dhabi, Jepan hingga Singapura,” pungkasnya.

Halaman:

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra