Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Aceh masih menjadi salah satu wilayah penting dalam peta hulu migas nasional. Warisan panjang sektor energi, terutama dari kejayaan Arun, menjadi pijakan bagi provinsi di ujung barat Indonesia itu untuk kembali membuka babak baru eksplorasi migas di darat maupun lepas pantai.
Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), Nasri Djalal, mengatakan potensi minyak dan gas bumi Aceh memiliki rekam jejak panjang dalam industri energi nasional. Salah satu tonggak pentingnya adalah ladang gas Arun di Aceh Utara yang sejak era pengembangannya dikenal sebagai salah satu aset gas besar dengan cadangan sekitar 16 triliun kaki kubik atau TCF.
“Potensi Aceh untuk minyak dan gas ini dari dulu sangat luar biasa. Jadi saat penemuan dan eksplorasi ladang gas di Arun oleh Exxon, itu Aceh menjadi salah satu daerah penyumbang sehingga Indonesia waktu itu termasuk dalam negara OPEC,” kata Nasri dalam wawancara Meet the Leaders Warta Ekonomi, dikutip Selasa (23/6/2026).
Menurut Nasri, prospek migas Aceh tidak hanya bertumpu pada sejarah Arun. Ia menyebut temuan di Laut Andaman yang berada di kisaran 10 TCF turut memperkuat peluang pengembangan hulu migas Aceh ke depan.
Aceh, lanjutnya, juga berada di antara dua cekungan besar. Di bagian utara terdapat North Sumatra Basin yang membentang dari Pidie hingga Aceh Utara dan Aceh Timur. Sementara di kawasan barat dan selatan terdapat Sibolga Basin. Di kawasan tersebut, Conrad Asia Energy memegang dua wilayah kerja lepas pantai, yakni Offshore North West Aceh dan Offshore South West Aceh.
“Jadi artinya Provinsi Aceh itu, lautan Provinsi Aceh baik di utara ataupun di barat selatan, memiliki cadangan minyak dan gas yang luar biasa, belum lagi yang di daratan. Jadi Aceh itu darat dan lautnya alhamdulillah punya cadangan minyak dan gas yang luar biasa,” ujarnya.
Di tengah potensi tersebut, BPMA menilai eksplorasi baru perlu terus didorong. Sebab, sejumlah wilayah kerja migas eksisting di Aceh telah memasuki fase lapangan tua atau mature field. Blok B, misalnya, merupakan bekas wilayah operasi Exxon yang telah dikembangkan sejak era 1970-an. Kondisi serupa juga terjadi pada Blok A dan Blok Pase yang disebut Nasri telah masuk fase penurunan alamiah atau natural declining.
“Nah salah satu target saya ketika menjadi Kepala BPMA adalah mencoba mencari cadangan baru, mencari investor baru. Ini perlu kita lakukan di samping tetap mencoba mencari alternatif untuk meningkatkan produksi,” ucapnya.
Nasri mengatakan, kebutuhan menjajaki investor baru tidak lepas dari kondisi cadangan pada wilayah kerja eksisting yang mulai mengecil. Karena itu, BPMA berupaya mengembangkan wilayah kerja baru agar potensi migas Aceh dapat ditindaklanjuti melalui studi, eksplorasi, dan investasi.
“Karena seperti saya sampaikan bahwa tingkat cadangan di Aceh ini sudah mengecil yang sudah ada, sehingga saya harus mencari alternatif baru dengan mencari investor-investor baru, mencoba mengembangkan wilayah-wilayah kerja baru,” ujarnya.
Untuk menarik minat calon mitra, BPMA aktif membawa potensi migas Aceh ke berbagai forum energi nasional dan internasional. Nasri menyebut forum seperti Indonesia Petroleum Association atau IPA, ADIPEC di Dubai, hingga forum energi di Singapura menjadi ruang penting untuk mempertemukan pemilik wilayah kerja dengan pemilik modal.
“Kita sering sekali mengikuti ekspo yang dilakukan di mana ekspo-ekspo ini baik nasional ataupun internasional itu merupakan suatu ajang yang mempertemukan antara si pemilik lapangan dengan pemilik modal,” katanya.
Upaya tersebut mulai mendapat respons dari sejumlah calon mitra strategis. Nasri menyebut perusahaan Jepang, yakni JAPEX dan JOGMEC, sebagai salah satu hasil penjajakan BPMA pada 2023. Proses meyakinkan perusahaan tersebut disebut berlangsung sekitar tujuh bulan hingga akhirnya mereka datang ke kantor BPMA, mengirimkan surat keberminatan, dan mempresentasikan proposal di Tim Wilayah Kerja Migas.
Baca Juga: Investor Patriot-Merah Putih Bond Kebal Hukum, Celios Ingatkan Risiko Reputasi RI
“Jepang ini, perusahaan JAPEX dan JOGMEC ini murni merupakan lobi kita di tahun 2023. Dan alhamdulillah cuma tujuh bulan kita meyakinkan perusahaan Jepang ini sampai akhirnya mereka mau berinvestasi, ditandai dengan datangnya ke kantor BPMA, kemudian mengirimkan surat keberminatan, dan terakhir mengirimkan presentasi proposal yang sudah dipresentasikan di Tim Wilayah Kerja Migas,” ujar Nasri.
Selain Jepang, BPMA juga tengah memproses Wilayah Kerja Jiwa yang melibatkan PT Agra Energi dan Maccon Energy dari Bahrain. Nasri menjelaskan, wilayah kerja tersebut masih berada pada tahap joint study, sehingga potensi atau kapasitasnya belum dapat dipastikan.
“Nah kalau ini kapasitasnya kita belum tahu karena ini masih tahap joint study. Mereka melakukan studi untuk wilayah kerja tersebut untuk mencari berapa cadangannya,” jelasnya.
Nasri menambahkan, joint study menjadi tahapan penting sebelum sebuah wilayah kerja masuk proses pelelangan. Setelah studi selesai, perusahaan akan memiliki data awal mengenai potensi cadangan dan wilayah prospektif. Data tersebut kemudian menjadi dasar bagi pemerintah untuk melanjutkan proses lelang wilayah kerja.
Baca Juga: BPMA: Aceh Tidak Menolak Proyek Gas Andaman, Tetapi Minta Nilai Tambah untuk Daerah
“Ya yang pasti setiap joint study ketika perusahaan tersebut selesai melakukan joint study dia tentu sudah memiliki data. Artinya memiliki data berapa cadangan kemudian wilayahnya di mana dan tentu saja ketika joint study selesai itu di Dirjen Migas akan melakukan pelelangan wilayah kerja,” kata Nasri.
BPMA juga menerima surat keberminatan dari PT Energi Hijau Biru, perusahaan lokal yang berkonsorsium dengan Barakah Petroleum dari Malaysia. Selain itu, Blok Musraya yang diajukan PT Putra Indo Manunggal juga masih berada dalam proses.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: