Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Publik Resah! PHK Massal Mengintai, Buruh Tekstil Terancam Turun Kelas dan Picu Kriminalitas

Publik Resah! PHK Massal Mengintai, Buruh Tekstil Terancam Turun Kelas dan Picu Kriminalitas Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kekhawatiran masyarakat meningkat terkait ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran di berbagai sektor industri.

Di sektor otomotif, dua perusahaan raksasa asal Jepang di Jawa Timur dilaporkan bersiap hengkang ke Vietnam, memindahkan basis produksi mereka. 

Sementara di sektor manufaktur, sekitar 4.000 buruh perusahaan sepatu di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, terancam kehilangan pekerjaan.

Namun, melalui platform X, seorang warga bernama Abul Muzaafar mengaku lebih takut dengan potensi PHK di industri tekstil dan apparel. Menurutnya, dampak sosial dan ekonomi dari sektor ini jauh lebih besar.

"Gue lebih takut jenis PHK dari industri tekstil dan apparel," tulisnya di akun X pribadinya, dikutip Selasa (23/6).

Ia merinci lima alasan utama:

1. Mayoritas buruh berasal dari kelas bawah. Jika menganggur, daya beli masyarakat langsung terpukul.

2. Survival lebih sulit. Buruh yang di-PHK cenderung masuk ke pekerjaan informal dengan kesejahteraan minim.

3. Dominasi pekerja perempuan. PHK bisa mengurangi independensi perempuan dan memperbesar risiko KDRT.

4. Dampak ke ekonomi lokal. Tutupnya pabrik akan memukul warung makan, kontrakan, ojek, laundry, toko kecil, hingga pedagang asongan.

5. Skill spesifik. Buruh tekstil sulit pindah ke sektor formal lain, sehingga banyak yang turun kelas menjadi pekerja informal atau pengangguran.  

Baca Juga: PHK Tembus 23.470 Pekerja, Fastpay Ajak Masyarakat Lakukan Diversifikasi Pendapatan

Abul menegaskan, jika PHK di sektor tekstil benar terjadi, maka akan banyak masyarakat yang turun kelas dan berpotensi meningkatkan angka kriminalitas.

"Dari pekerja bergaji tetap menjadi pekerja informal dengan pendapatan tidak pasti. Atau malah beneran jadi pengangguran. Lama kelamaan, ini bakal ngaruh ke naiknya tingkat kriminalitas di daerah tersebut," tandasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya