Mulai Was-Was, Kim Jong Un dan Xi Jinping Tuduh Jepang Bangkitkan Militerisme
Kredit Foto: Getty Images/AFP/KCNA
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un melontarkan kritik keras terhadap Jepang dengan menyebut negara tersebut tengah bergerak menuju status sebagai "negara perang" dan berupaya memperkuat kapasitas militernya.
Pernyataan itu disampaikan Kim dalam pidato penutupan rapat Partai Buruh Korea yang digelar di Pyongyang, sebagaimana dilaporkan media resmi Korea Utara, KCNA, Selasa (23/6).
Kim menuduh Jepang memanfaatkan situasi keamanan regional untuk melepaskan diri dari berbagai pembatasan yang selama ini menghambat ekspansi kekuatan militernya. Menurutnya, langkah tersebut berpotensi memicu kekhawatiran baru di tingkat internasional.
"Jepang secara terbuka mengubah dirinya menjadi negara perang dan berusaha melepaskan diri dari semua belenggu yang membatasi langkahnya untuk menjadi kekuatan militer," kata Kim seperti dikutip KCNA.
Laporan tersebut menyebut Kim untuk pertama kalinya menggunakan istilah "menjadi kekuatan militer" dan "militerisme" dalam kritiknya terhadap Jepang. Penggunaan istilah itu dinilai mencerminkan meningkatnya perhatian Pyongyang terhadap perubahan kebijakan pertahanan Tokyo dalam beberapa tahun terakhir.
Sikap Kim sejalan dengan pernyataan Presiden China Xi Jinping yang sebelumnya juga mengingatkan bahaya upaya "menghidupkan kembali militerisme". Pernyataan Xi disampaikan saat menghadiri jamuan yang digelar Kim di Pyongyang awal bulan ini.
Meski tidak secara langsung menyebut Jepang, pernyataan Xi dipandang sebagai kritik terhadap peningkatan kemampuan pertahanan dan peran militer negara tersebut di kawasan Asia Timur. China dan Korea Utara sama-sama memiliki sensitivitas historis terhadap militerisme Jepang yang berkembang sebelum dan selama Perang Dunia II.
Komentar dari Kim dan Xi muncul di tengah perubahan signifikan dalam kebijakan keamanan Jepang. Dalam beberapa tahun terakhir, Tokyo meningkatkan anggaran pertahanan, memperkuat kerja sama keamanan dengan Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya, serta mengembangkan kemampuan pertahanan yang lebih luas sebagai respons terhadap berbagai tantangan keamanan regional.
Selain menyoroti Jepang, Kim juga mengkritik Amerika Serikat dan Korea Selatan yang dinilainya memperburuk situasi keamanan di Semenanjung Korea melalui modernisasi militer, latihan gabungan, dan aktivitas intelijen.
Baca Juga: Baru Mau Damai, Ancaman Trump Bikin Perundingan Iran-AS di Swiss Nyaris Berantakan
Menurut Kim, kondisi tersebut menjadi alasan bagi Korea Utara untuk terus memperkuat kemampuan pertahanannya. Ia menegaskan bahwa Pyongyang akan mempercepat pengembangan aset pertahanan strategis dengan menjadikan teknologi nuklir sebagai fondasi utama.
Kim juga kembali menegaskan garis politik Korea Utara terhadap Korea Selatan yang disebutnya sebagai "negara paling bermusuhan", sekaligus menyerukan peningkatan kekuatan pertahanan secara berkelanjutan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: