Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

SPBU Ogah-ogahan Turunkan Harga Bensin, Investigasi Akan Segera Dilakukan oleh Amerika

SPBU Ogah-ogahan Turunkan Harga Bensin, Investigasi Akan Segera Dilakukan oleh Amerika Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan tuduhan keras kepada perusahaan-perusahaan minyak besar yang dinilainya sengaja mempertahankan harga bensin tetap tinggi meski biaya minyak mentah mulai menurun.

Trump menyebut masyarakat sedang menjadi korban praktik yang tidak adil dan meminta aparat hukum menyelidiki kondisi tersebut. Ia mengatakan perusahaan minyak gagal menyesuaikan harga jual bensin dengan penurunan harga minyak mentah yang mereka beli.

Baca Juga: Netanyahu Dikecam Elite Israel, Operasi Penyelundupan Puluhan Ribu Starlink Gagal Hancurkan Iran

"SPBU dan perusahaan-perusahaan minyak besar tidak menurunkan harga bensin sebanding dengan penurunan tajam harga minyak yang mereka bayarkan," ungkap Trump, dikutip Kamis (25/6).

Departemen Kehakiman Amerika Serikat kini dimintanya untuk segera melakukan penyelidikan terhadap perusahaan-perusahaan energi yang diduga mengambil keuntungan berlebihan dari kondisi pasar. Meski demikian, hingga kini belum ada konfirmasi resmi terkait dimulainya investigasi tersebut.

Pernyataan Trump muncul ketika harga bensin masih bertahan di kisaran US$3,93 di Amerika Serikat. Padahal, ketegangan di Timur Tengah yang sempat memicu lonjakan harga energi sudah mulai mereda setelah pembicaraan damai berlangsung dibarengi dengan dibukanya Selat Hormuz.

Trump menilai perusahaan energi seharusnya segera menyalurkan manfaat penurunan biaya minyak mentah kepada konsumen. Adapun tingginya harga bensin selama beberapa bulan terakhir telah membebani rumah tangga Amerika.

Sebagian pengendara bahkan disebut harus mengeluarkan tambahan biaya lebih dari US$300 per bulan hanya untuk kebutuhan bahan bakar kendaraan.

Trump menjadikan isu harga energi tersebut sebagai salah satu fokus utama pemerintahannya karena berkaitan langsung dengan daya beli masyarakat. Ia juga berupaya meyakinkan publik bahwa kondisi ekonomi mulai membaik, namun menilai manfaat tersebut belum sepenuhnya dirasakan masyarakat selama harga bensin masih bertahan tinggi.

Baca Juga: Presiden Amerika Kembali Ngamuk ke Iran: Izinkan Inspeksi ke Teheran atau Negosiasi Berhenti

Tuduhan Trump terhadap perusahaan minyak diperkirakan akan memicu perdebatan baru di Amerika Serikat. Hal itu terutama terkait mekanisme pembentukan harga energi dan keuntungan yang diperoleh perusahaan-perusahaan minyak besar di tengah ketidakpastian pasar global.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar