Kredit Foto: LPS
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menargetkan pengurangan jumlah penduduk yang belum memiliki rekening perbankan (unbanked) sebanyak 2 juta orang setiap tahun. Langkah ini sebagai bagian dari upaya memperkuat inklusi keuangan nasional.
Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu, mengatakan saat ini masih terdapat sekitar 15 juta penduduk usia produktif yang belum memiliki rekening. Oleh karena itu, LPS menetapkan target penurunan jumlah tersebut secara bertahap melalui berbagai program, termasuk penyelenggaraan Financial Festival.
“Setiap tahun kami punya target untuk mengurangi yang namanya unbank, Pak penduduk yang tidak memiliki rekening. Sekarang berapa? 15 juta yang usia produktif. Setiap tahun target kami adalah mengurangi 2 juta unbank,” ujar Anggito dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI, Rabu (24/6/2026).
Ia menambahkan, target tersebut sejalan dengan arahan Presiden agar seluruh penduduk Indonesia mulai memiliki rekening dalam beberapa tahun ke depan.
“Bapak presiden pernah memberikan arahan pada kami dalam waktu 3 tahun harus semua penduduk Indonesia sudah mulai memiliki rekening. Jadi kami targetnya adalah menurunkan unbank 2 juta,” katanya.
Menurut Anggito, LPS juga akan mengukur efektivitas Financial Festival digelar di Yogyakarta melalui jumlah rekening baru yang dibuka setelah kegiatan tersebut. Evaluasi ini menjadi salah satu indikator keberhasilan program literasi dan inklusi keuangan yang dijalankan lembaganya.
“Kami nanti setelah ini akan mengukur berapa rekening baru yang diterbitkan yang muncul dari financial festival ini. Jadi ada ukurannya,” ujarnya.
Berdasarkan pemetaan yang dilakukan LPS, jumlah penduduk unbanked yang saat ini sekitar 15,3 juta diharapkan dapat terus menurun hingga berada di kisaran 12 juta hingga 13 juta pada 2026.
Baca Juga: Disorot DPR, LPS Tegaskan Financial Festival 2026 Hanya Berstatus Sponsor dan Digelar Bergilir
Baca Juga: LPS Pastikan Tindakan Penyelamatan Asuransi Berlaku Penuh 1 Januari 2030
Sasaran utama program tersebut adalah masyarakat berusia 15 hingga 69 tahun, termasuk pelajar sekolah menengah atas yang mulai memasuki usia produktif dan menjadi pengguna pertama layanan keuangan formal.
Anggito menjelaskan, keikutsertaan pelajar dalam Financial Festival merupakan bagian dari strategi memperkenalkan layanan keuangan sejak dini agar semakin banyak masyarakat yang terhubung dengan sistem perbankan dan keuangan formal.
"Karena saya melihat Jogja ini adalah kota yang sangat inklusif. Kota yang sangat inklusif dan menjadi tolak ukur banyak kegiatan dilakukan di sana," kata Anggito.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: