Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Terkapar, Nasabah Kaya Mulai Alihkan Aset ke Dolar AS

Rupiah Terkapar, Nasabah Kaya Mulai Alihkan Aset ke Dolar AS Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ketidakpastian global dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah mendorong masyarakat, terutama segmen affluent dan high-net-worth (HNW), mulai mendiversifikasi aset ke mata uang dolar Amerika Serikat (USD). Langkah tersebut dinilai dapat menjaga nilai kekayaan sekaligus mengurangi risiko fluktuasi kurs di tengah meningkatnya kebutuhan finansial yang berorientasi global.

Di tengah kondisi tersebut, perekonomian Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,61% secara tahunan (year on year/YoY). Pertumbuhan itu ditopang oleh konsumsi rumah tangga, percepatan belanja pemerintah, peningkatan investasi, serta pemulihan sektor manufaktur. Namun, ketegangan geopolitik, perlambatan ekonomi global, dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dinilai tetap berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi.

Certified Financial Planner (CFP) Prudential Indonesia, Priskilla Fachruddin, mengatakan hasil survei internal terhadap nasabah kelas menengah atas dan individu HNW menunjukkan meningkatnya kekhawatiran terhadap pelemahan rupiah. Sebanyak 75% responden khawatir nilai tukar rupiah akan terus melemah sehingga berpotensi menggerus nilai aset, sementara 69% responden menilai sebagian aset perlu ditempatkan dalam mata uang asing sebagai bentuk perlindungan.

"Dalam perencanaan keuangan jangka panjang dengan situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memperkuat fondasi likuiditas dan proteksi jangka panjang. Masyarakat, khususnya yang sudah berkeluarga sebaiknya memperkuat dana darurat dengan memastikan pengeluaran kebutuhan hidup untuk 9–12 bulan ke depan terpenuhi, serta kewajiban rutin tetap ditempatkan pada instrumen yang stabil dan mudah dicairkan. Proteksi keuangan jangka panjang juga perlu disesuaikan agar nilai proteksi tetap stabil dalam jangka panjang," ujar Priskilla dalam keterangan tertulis, Jumat (26/6/2026).

Baca Juga: Dolar AS Kuasai 60% Pembayaran Global, Indonesia Ikut Tunduk

Baca Juga: Elon Musk Manusia Pertama Berstatus Triliuner Dolar AS Pertama di Dunia

Menurut Priskilla, diversifikasi portofolio, termasuk melalui aset berbasis USD maupun instrumen investasi global, dapat menjadi salah satu strategi untuk menjaga daya beli dan memenuhi kebutuhan keuangan jangka panjang.

"Selain itu, penting juga untuk mulai mendiversifikasi portofolio, termasuk mempertimbangkan eksposur pada mata uang asing seperti USD atau aset investasi berbasis global, sehingga risiko tidak hanya bergantung pada satu mata uang atau satu sumber return. Strategi ini dapat memastikan kekayaan keluarga tetap memiliki daya beli dan relevansi di masa depan, sekaligus memastikan kesiapan dana untuk memenuhi kebutuhan yang berorientasi global," katanya.

Sejalan dengan tren tersebut, Prudential Indonesia menyediakan pilihan investasi dalam produk Asuransi Jiwa PRUFuture yang dirancang berdasarkan prinsip diversifikasi untuk membantu mengurangi risiko ketidaksesuaian mata uang (currency mismatch) antara aset, kewajiban, dan tujuan keuangan nasabah.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri