Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

In This Economy, Masih Mampu Sekolahkan Anak ke Luar Negeri 5 Tahun Lagi?

In This Economy, Masih Mampu Sekolahkan Anak ke Luar Negeri 5 Tahun Lagi? Kredit Foto: Prudential
Warta Ekonomi, Jakarta -

Mimpi menyekolahkan anak ke luar negeri berpotensi menjadi semakin mahal dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan. Kenaikan biaya pendidikan global yang konsisten, ditambah risiko pelemahan nilai tukar rupiah, membuat kebutuhan dana pendidikan internasional berpotensi melonjak ratusan juta rupiah dibandingkan saat ini.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan biaya pendidikan per peserta didik di Indonesia terus meningkat dalam satu dekade terakhir. Untuk jenjang perguruan tinggi, kenaikannya bahkan mencapai 282% sepanjang periode tersebut.

Tekanan biaya diperkirakan lebih besar bagi keluarga yang menargetkan pendidikan di luar negeri. Laporan OECD 2026 mencatat mahasiswa internasional di sejumlah negara tujuan utama membayar biaya pendidikan rata-rata lebih dari dua kali lipat dibandingkan mahasiswa domestik.

Kondisi tersebut meningkatkan tantangan bagi keluarga Indonesia yang memiliki rencana pendidikan global bagi anak-anaknya, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi dan volatilitas nilai tukar.

Sebagai ilustrasi, pasangan Dino (39) dan Sarah (37) menargetkan anak mereka, Mario (13), melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat dalam lima tahun mendatang. Saat ini biaya kuliah di Amerika Serikat diperkirakan mencapai US$50.000 per tahun atau sekitar Rp900 juta dengan asumsi kurs Rp18.000 per dolar AS.

Namun, jika biaya pendidikan meningkat rata-rata 6% per tahun, kebutuhan dana tersebut dapat naik menjadi lebih dari US$67.000 per tahun dalam lima tahun mendatang. Dengan asumsi kurs tetap Rp18.000 per dolar AS, kebutuhan biaya kuliah meningkat menjadi sekitar Rp1,2 miliar per tahun.

Risikonya menjadi lebih besar apabila terjadi pelemahan rupiah. Dengan biaya pendidikan sebesar US$67.000 dan kurs mencapai Rp20.000 per dolar AS, kebutuhan dana kuliah dapat meningkat menjadi sekitar Rp1,34 miliar per tahun.

Artinya, keluarga tidak hanya menghadapi risiko inflasi pendidikan, tetapi juga risiko nilai tukar yang dapat memperbesar kebutuhan dana secara signifikan.

Certified Financial Planner (CFP) Prudential Indonesia Priskilla Fachruddin mengatakan perencanaan pendidikan global tidak lagi hanya berfokus pada besarnya dana yang berhasil dikumpulkan.

Menurutnya, keluarga perlu memastikan nilai dana yang disiapkan tetap relevan dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai di masa depan, termasuk dengan mempertimbangkan inflasi pendidikan dan perubahan nilai tukar.

Priskilla menilai semakin panjang periode persiapan, semakin besar peluang keluarga membangun dana pendidikan secara bertahap dan mengelola perubahan kebutuhan yang muncul di masa depan.

Selain biaya kuliah, keluarga juga perlu memperhitungkan komponen pengeluaran lain seperti biaya hidup, akomodasi, transportasi, asuransi kesehatan, hingga kebutuhan pendukung selama masa studi.

Baca Juga: Tekanan Ekonomi Meningkat, Prudential Gencarkan Edukasi Finansial untuk Perempuan

Baca Juga: Prudential Soroti Kenaikan Biaya Berobat, Klaim Nasabah Tembus Rp16 Triliun

Ia juga mengingatkan pentingnya melakukan evaluasi berkala terhadap rencana keuangan karena biaya pendidikan dan biaya hidup cenderung meningkat setiap tahun.

Di samping itu, perlindungan keuangan dinilai menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan mengingat persiapan pendidikan luar negeri umumnya berlangsung dalam jangka panjang dan rentan terhadap berbagai risiko yang tidak terduga.

Meningkatnya biaya pendidikan global dan ketidakpastian nilai tukar membuat perencanaan pendidikan luar negeri kini tidak hanya menjadi persoalan menabung, tetapi juga pengelolaan risiko keuangan jangka panjang.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Annisa Nurfitri