Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Terungkap! Ini Kronologi dan Penyebab Wafatnya 5 Peserta Latsarmil Calon Manajer Kopdes

Terungkap! Ini Kronologi dan Penyebab Wafatnya 5 Peserta Latsarmil Calon Manajer Kopdes Kredit Foto: Muhammad Farhan Shatry
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kementerian Pertahanan (Kemenhan) mengungkap kronologi lengkap beserta hasil evaluasi medis terkait meninggalnya lima peserta calon Manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih saat mengikuti Latihan Dasar Militer (Latsarmil).

Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, kelima peserta meninggal akibat kondisi klinis yang berbeda-beda, mulai dari henti jantung (cardiac arrest), heat stroke, tuberkulosis (TB) paru aktif, hingga pneumonia dengan komplikasi medis. Kemenhan menegaskan seluruh peserta telah menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum pendidikan serta memperoleh penanganan medis sesuai prosedur ketika mengalami gangguan kesehatan.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemenhan Mayjen TNI Gede Wetan Pastia mengatakan penjelasan tersebut disampaikan untuk meluruskan berbagai informasi yang berkembang di masyarakat mengenai penyebab meninggalnya para peserta.

Menurut Gede, sebelum mengikuti pendidikan seluruh peserta telah menjalani rangkaian pemeriksaan kesehatan, meliputi pemeriksaan laboratorium darah dan urine, tes kehamilan, foto rontgen toraks, elektrokardiogram (EKG), USG abdomen, pemeriksaan mata, gigi, postur tubuh, hingga kesehatan jiwa.

“Kelima peserta tersebut memiliki karakteristik dan kondisi medis yang berbeda-beda. Seluruh peserta telah mendapatkan penanganan medis sesuai prosedur, baik di fasilitas kesehatan satuan maupun rumah sakit rujukan,” ujar Gede dalam konferensi pers di Kantor Kemenhan, Sabtu (27/6/2026).

Ia menambahkan seluruh kronologi yang dipaparkan bersumber dari laporan resmi satuan pendidikan dan rumah sakit yang menangani masing-masing peserta.

“Pada kesempatan ini kami akan menyampaikan kronologis singkat masing-masing kejadian berdasarkan laporan resmi dari satuan pendidikan dan rumah sakit,” katanya.

Berdasarkan paparan Kemenhan, peserta pertama yang meninggal adalah Yonanda Muhammad Taufiq dari Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja. Pada 17 Juni 2026 sekitar pukul 16.00 WIB, almarhum mengikuti kegiatan pengenalan lingkungan dengan berjalan kaki bersama peserta lain. Sekitar pukul 17.17 WIB, pelatih mendapati korban mengalami penurunan kesadaran sehingga tim kesehatan segera melakukan evakuasi ke Pos Kesehatan Satdik sebelum dirujuk ke RS dr. Noesmir Baturaja. Meski mendapatkan penanganan intensif, korban dinyatakan meninggal dunia pada pukul 18.30 WIB dengan diagnosis cardiac arrest atau henti jantung.

Kasus kedua dialami Anisa Muyassaroh yang mengikuti pendidikan di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman Balikpapan. Pada 18 Juni 2026 sekitar pukul 13.35 WITA, sebelum kegiatan pembelajaran dimulai, korban mengeluhkan sesak napas dan mual. Setelah menjalani pemeriksaan di Pos Kesehatan, korban dirujuk ke RST dr. Hardjanto Balikpapan. Kondisinya terus menurun hingga hasil EKG menunjukkan flat asystole. Dokter kemudian menyatakan korban meninggal dunia pada pukul 19.00 WITA dengan penyebab medis heat stroke.

Korban ketiga, Novia Rahmadhani Sihotang dari Satdik Pusbahasa Kodiklatau, datang ke unit kesehatan pada 22 Juni 2026 dengan keluhan batuk berdahak, sesak napas, dan demam. Setelah mendapatkan terapi awal, kondisinya memburuk keesokan harinya sehingga dirujuk ke RSAU dr. Esnawan Antariksa. Hasil pemeriksaan foto toraks menunjukkan adanya tuberkulosis paru aktif. Korban kemudian menjalani perawatan intensif di ruang ICU isolasi. Meski tim medis telah melakukan resusitasi jantung paru saat kondisi menurun, korban dinyatakan meninggal dunia pada 23 Juni 2026 pukul 15.13 WIB akibat tuberkulosis aktif.

Selanjutnya, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan dari Satdik Yon Parako 465 mengeluhkan sesak napas dan lemas pada 25 Juni 2026 sekitar pukul 14.30 WIB. Setelah mendapatkan terapi oksigen dan sempat beristirahat, kondisi korban kembali memburuk pada sore hari sehingga dirujuk ke RSAU dr. Esnawan Antariksa. Di rumah sakit korban menjalani pemeriksaan laboratorium, EKG, foto toraks, pemasangan alat bantu napas, hingga perawatan di ruang ICU. Namun, korban meninggal dunia pada 26 Juni 2026 pukul 00.28 WIB. Berdasarkan resume medis, penyebab kematian berkaitan dengan pneumonia atau infeksi paru-paru yang disertai komplikasi medis. Riwayat kesehatan korban juga menunjukkan adanya hipertensi dan obesitas.

Adapun korban kelima, Nola Dya Sari dari Satdik C Kalimantan, pada 26 Juni 2026 masih mengikuti kegiatan pembelajaran di dalam kelas tanpa keluhan kesehatan. Sekitar pukul 18.45 WIB, korban mengeluhkan sesak napas disertai badan terasa panas sehingga segera dibawa ke IGD RS Singkawang sebelum dirujuk ke RSUD Abdul Aziz Singkawang. Dalam proses penanganan, korban mengalami henti jantung sehingga tim medis melakukan resusitasi jantung paru dan tindakan kardioversi. Meski berbagai upaya medis dilakukan, korban dinyatakan meninggal dunia pada pukul 21.03 WIB.

Baca Juga: Meski Memakan Korban Jiwa, Mensesneg Pastikan Latihan Militer Calon Manajer Kopdes Tetap Berjalan

Baca Juga: Latsarmil Terus Memakan Korban Jiwa, Mensesneg Evaluasi Latihan Militer Calon Manajer Kopdes

Kemenhan menyebut saat mengikuti seleksi, Nola telah dinyatakan memenuhi syarat kesehatan sesuai ketentuan yang berlaku, meski memiliki catatan kelebihan berat badan. Hingga kini, evaluasi medis terhadap kasus tersebut masih terus dilakukan untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai penyebab yang mendasari kondisi korban.

Gede menegaskan hasil evaluasi menunjukkan penyebab kematian kelima peserta tidak sama. Dua peserta meninggal akibat gangguan sistem pernapasan berupa tuberkulosis aktif dan pneumonia yang disertai komplikasi, satu peserta meninggal akibat heat stroke, satu peserta akibat henti jantung, sementara satu kasus lainnya masih dalam pendalaman medis. Menurutnya, seluruh peserta telah mendapatkan penanganan sesuai standar medis, baik di fasilitas kesehatan satuan maupun rumah sakit rujukan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Muhammad Farhan Shatry
Editor: Annisa Nurfitri