Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Surat Wasiat Almarhumah dr Icha, Apa Isinya...

Surat Wasiat Almarhumah dr Icha, Apa Isinya... Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kasus dugaan intimidasi yang berujung tragis pada meninggalnya dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni (27), atau yang akrab disapa dr. Icha, kini memasuki babak baru.

Pihak keluarga resmi menempuh jalur hukum dan telah menyerahkan sejumlah barang bukti kepada Polres Kupang untuk mengusut tuntas keterlibatan tiga anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ketiga legislator yang diduga melakukan intimidasi tersebut adalah Veronika Lake (PDIP), Therensius Lazakar (Golkar), dan Robertus Bani (PKB). Akibat intimidasi tersebut, dr. Icha dilaporkan mengalami depresi berat hingga mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.

Dugaan intimidasi ini bermula pada Sabtu (13/6/2026), saat dr. Icha sedang bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Leona, Kefamenanu, TTU. Saat itu, ia tengah menangani seorang pasien anak yang menjadi korban gigitan ular hijau.

Pihak keluarga menegaskan bahwa dr. Icha telah menjalankan tugasnya sesuai dengan Standard Operating Procedure (SOP). Namun, situasi memanas ketika Therensius Lazakar, yang mengaku sebagai paman pasien, datang bersama Robertus Bani dan Veronika Lake.

Menurut juru bicara keluarga korban, Fabianus Banase, ketiga oknum anggota dewan tersebut membentak dr. Icha dengan nada keras dan intimidatif. Tragisnya, tercium aroma alkohol saat aksi pembentakan itu terjadi.

"Saat membentak (dr. Icha) itu bau alkohol. Ada juga fotonya yang dikirimkan kepada kami sebagai keluarga," ungkap Fabianus.

Kondisi Psikologis Korban Menurun Drastis

Paman korban, Victor Manbait, menambahkan bahwa pasca-insiden pembentakan tersebut, kondisi psikologis keponakannya merosot tajam karena didera ketakutan hebat. dr. Icha bahkan sempat ketahuan menangis di rumah sakit dan harus menjalani perawatan psikiatri.

Tak lama setelah itu, korban ditemukan dalam kondisi lemah di tempat tinggalnya akibat mencoba mengakhiri hidup, hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

Ayah kandung dr. Icha, Gabriel Pakaenoni, menegaskan bahwa putrinya dalam kondisi yang sangat sehat sebelum insiden tersebut terjadi.

"Anak saya sehat di dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai seorang dokter sesuai profesi yang disandangnya," tegas Gabriel.

Keluarga Serahkan Surat Wasiat ke Polisi

Sebagai langkah hukum, Gabriel menyatakan telah menyerahkan seluruh barang bukti kepada Polres Kupang, termasuk sebuah surat wasiat yang ditinggalkan oleh anak sulungnya tersebut. Namun, pihak keluarga memilih untuk merahasiakan isi surat demi kelancaran penyidikan.

"Menyangkut kondisi kejiwaan atau kronologi mengenai itu nanti bisa ditanyakan langsung kepada penasihat hukum, karena semuanya sudah diserahkan kepada penasihat hukum," ujar Gabriel.

Merespons tudingan tersebut, salah satu anggota DPRD TTU yang terseret, Veronika Lake, memberikan klarifikasi.

Ia berdalih tidak ikut masuk ke ruang perawatan untuk melakukan intimidasi. Veronika juga mengklaim dua rekannya sudah meminta maaf kepada manajemen RS Leona dan dr. Icha keesokan harinya.

"Sekali lagi, dari lubuk hati yang paling dalam saya menyampaikan turut berdukacita atas meninggalnya Dokter Icha," kata Veronika.

Saat ini, pihak kepolisian telah menjadwalkan pemeriksaan terhadap ketiga anggota DPRD TTU tersebut. Di sisi lain, pengurus pusat dari PDIP, Golkar, dan PKB dilaporkan sudah mulai angkat bicara dan memantau ketat kasus yang menjerat kader mereka di daerah.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat

Tag Terkait: