Ada yang Tempuh 530 Kilometer, Haru Pemakaman Ali Khamenei Selimuti Jalanan Iran
Kredit Foto: Istimewa
Iran diliputi suasana duka menyelimuti saat rangkaian pemakaman Mantan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, Sabtu (4/7/2026). Ribuan hingga jutaan warga diperkirakan memadati jalan-jalan ibu kota negara tersebut untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang memimpin mereka selama puluhan tahun dari Teheran.
Di antara lautan pelayat, terdapat warga yang rela menempuh perjalanan ratusan kilometer hanya untuk bisa menghadiri prosesi pemakaman tersebut.
Baca Juga: Trump Kecewa Yahudi Amerika Tak Kunjung Dukung Partainya, Padahal Sudah Mati-matian Bela Israel
Salah Seorang Pelayat, Ali Kazemi mengaku datang dari Kota Tabriz di Barat Laut Iran. Kota tersebut diketahui berjarak sekitar 530 kilometer dari Teheran.
"Kami menghadiri pemakaman untuk menunjukkan bahwa kami semua berkomitmen membela negara dan agama kami," ujar Kazemi.
Suasana haru juga tampak dari kesaksian Hananeh Mousavi. Ia merupakan perempuan berusia 27 tahun yang datang bersama ibunya.
"Saya di sini untuk mengucapkan selamat tinggal kepada pemimpin tercinta saya, Ali Khamenei," katanya sambil menangis.
"Saya tidak pernah menyangka akan melihat hari seperti ini. Saya berharap saya meninggal sebelum tragedi ini terjadi," lanjutnya.
Di Grand Mosalla, Teheran, ribuan pelayat mengenakan pakaian hitam dan memukul dada secara berirama sebagai tradisi berkabung dalam komunitas dari Syiah.
Media Pemerintah Iran menayangkan peti jenazah dari Ali Khamenei. Ia terlihat dibalut bendera negara dan kemudian diselimuti bendera merah yang sebelumnya berkibar di atas makam dari Imam Hussein di Karbala, Irak.
Sejumlah pelayat juga melemparkan syal dan barang pribadi ke arah peti jenazah agar benda-benda tersebut sempat menyentuh peti, sebuah tradisi yang umum dilakukan dalam prosesi penghormatan di Iran.
Pemerintah memperkirakan jumlah pelayat akan mencapai jutaan orang, mengingat besarnya peran Ali Khamenei di Republik Islam Iran.
Rangkaian pemakaman digelar beberapa bulan setelah sosok politikus itu tewas akibat serangan udara dari Israel dan Amerika Serikat, 28 Februari 2026.
Selama masa berkabung, pemerintah menutup sejumlah ruas jalan utama, membatasi aktivitas penerbangan dan menghentikan sebagian aktivitas masyarakat untuk mendukung kelancaran prosesi.
Di tengah kerumunan, massa beberapa kali meneriakkan slogan "Matilah Amerika!", seruan yang telah lama menjadi bagian dari demonstrasi politik di negara tersebut sejak Revolusi Islam 1979.
Setelah prosesi selesai, jenazah sang mantan pemimpin itu akan dibawa ke sejumlah kota sebelum dimakamkan dalam rangkaian penghormatan yang berlangsung hingga 9 Juli.
Baca Juga: Kunci Beres Perkara, Jokowi Diminta Tunjukkan Ijazah Asli di Sidang Dokter Tifa: Kalau Beneran Ada
Bagi banyak warga yang hadir, perjalanan panjang menuju pemakamannya bukan sekadar menghadiri pemakaman seorang pemimpin, tetapi menjadi simbol penghormatan terakhir kepada tokoh yang selama puluhan tahun menjadi wajah utama dari Republik Islam Iran.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: