Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Trump Klaim Amerika Terbukti Jadi Bangsa Paling Bebas, Ungkit Lancarnya Operasi Venezuela dan Iran

Trump Klaim Amerika Terbukti Jadi Bangsa Paling Bebas, Ungkit Lancarnya Operasi Venezuela dan Iran Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memanfaatkan perayaan 250 tahun kemerdekaan negaranya untuk memamerkan capaian militer dari Amerika. Dalam kesempatan itu, sang presiden bahkan mengklaim bahwa ia merupakan pemimpin bangsa paling bebas di dunia, menyusul pencapaiannya dalam operasi di Iran dan Venezuela.

Trump lebih dulu menonjolkan kekuatan militer negaranya yang menurutnya menjadi yang paling kuat dan berpengaruh di dunia. Pernyataan tersebut disampaikan sang politikus saat menghadiri acara America 250 di Mount Rushmore, South Dakota.

Baca Juga: Amerika Ledek Pemakaman Khamenei di Iran: Tak Akan Ada Banyak Air Mata Jatuh di Sana

""Pada usia 250 tahun, kita adalah republik tertua di Bumi. Kita adalah bangsa yang paling bebas di Bumi. Kita memiliki konstitusi yang paling adil dan abadi di Bumi," katanya, dikutip Minggu (5/7).

Ia juga menyebut perang dingin berhasil membuat musuh-musuh negaranya "terpuruk dalam sejarah." Trump kemudian menyinggung konflik terbaru dengan Iran dan Venezuela. Ia mengklaim bahwa keduanya berakhir dengan kemenangan dari Amerika Serikat.

"Kita dalam satu hari mengalahkan Venezuela. Kita juga menghancurkan Iran. Kini mereka sangat ingin berdamai. Mereka sangat ingin berdamai," ujarnya.

Adapun Trump mengumumkan bahwa pemerintahannya bahkan menghentikan sementara proses negosiasi dengan Iran. Hal itu dilakukan selama satu minggu agar negara tersebut dapat menggelar pemakaman dari Mantan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Pemerintah Iran diketahui menutup sejumlah jalan utama serta membatasi aktivitas masyarakat selama masa berkabung. Jutaan warga diperkirakan menghadiri prosesi penghormatan terakhir kepada pemimpin yang wafat akibat serangan udara pada awal perang, 28 Februari 2026.

Meski demikian, sang presiden memilih menyoroti keberhasilan negaranya di bidang militer dan diplomasi dibanding membahas suasana berkabung yang tengah berlangsung di Iran.

Pernyataan tersebut kembali menegaskan cara politikus membangun narasi bahwa posisi negaranya di panggung internasional semakin kuat setelah berbagai konflik luar negeri yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Diketahui, Iran resmi memulai rangkaian pemakaman untuk Eks Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, Sabtu (4/7/2026). Ribuan hingga jutaan warga diperkirakan memadati jalan-jalan ibu kota negara tersebut untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang memimpin mereka selama puluhan tahun dari Teheran.

Di antara lautan pelayat, terdapat warga yang rela menempuh perjalanan ratusan kilometer hanya untuk bisa menghadiri prosesi pemakaman tersebut.

Salah Seorang Pelayat, Ali Kazemi mengaku datang dari Kota Tabriz di Barat Laut Iran. Kota tersebut diketahui berjarak sekitar 530 kilometer dari Teheran.

"Kami menghadiri pemakaman untuk menunjukkan bahwa kami semua berkomitmen membela negara dan agama kami," ujar Kazemi.

Suasana haru juga tampak dari kesaksian Hananeh Mousavi. Ia merupakan perempuan berusia 27 tahun yang datang bersama ibunya.

"Saya di sini untuk mengucapkan selamat tinggal kepada pemimpin tercinta saya, Ali Khamenei," katanya sambil menangis.

Baca Juga: Kasus Ijazah Delik Aduan, Dokter Tifa Nantikan Kesaksian Jokowi Langsung di Sidang

"Saya tidak pernah menyangka akan melihat hari seperti ini. Saya berharap saya meninggal sebelum tragedi ini terjadi," lanjutnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar