Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Seruan 'Bunuh Trump' Menggema, Iran: Aib Jika Kita Tidak Melakukannya

Seruan 'Bunuh Trump' Menggema, Iran: Aib Jika Kita Tidak Melakukannya Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Suasana duka yang menyelimuti prosesi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, berubah menjadi panggung penuh kemarahan dan tuntutan balas dendam. Dari dalam aula doa yang dipadati ribuan pelayat di Teheran, terdengar seruan keras yang ditujukan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Prosesi pemakaman yang berlangsung selama sepekan itu tak hanya menjadi penghormatan terakhir bagi Khamenei, tetapi juga memperlihatkan meningkatnya ketegangan politik antara Iran dan Amerika Serikat. Berbagai pidato, puisi, hingga slogan yang diteriakkan massa dipenuhi ajakan untuk membalas kematian pemimpin mereka.

Iran menggelar pemakaman massal bagi Ali Khamenei yang tewas bersama sejumlah anggota keluarganya pada hari pertama perang Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari. Pelaksanaan pemakaman sempat ditunda karena situasi perang yang masih berlangsung.

Pada Minggu, salat jenazah digelar untuk Khamenei dan empat anggota keluarganya di Masjid Agung Imam Khomeini, Teheran. Upacara tersebut menjadi simbol politik yang memadukan suasana berkabung dengan seruan balas dendam terhadap pihak yang dianggap bertanggung jawab.

Baca Juga: 'Saya Kira Orang Iran Membenci Khamenei', Trump Sindir Air Mata Palsu Para Pelayat

Ribuan pelayat bahkan telah memadati kawasan masjid sejak jauh sebelum fajar. Sebagian memilih bermalam di sekitar lokasi agar bisa mengikuti doa yang dimulai pukul 08.00 waktu setempat.

Jumlah massa pada hari kedua pemakaman disebut jauh lebih besar dibandingkan hari sebelumnya. Selain lebih banyak, suasana yang tercipta juga dinilai lebih militan. Pemerintah Iran disebut ingin menunjukkan kepada dunia bahwa negaranya masih memiliki ketahanan sosial dan tekad mempertahankan kemerdekaan.

Puncak perhatian terjadi ketika penyair Mohammad Rasouli membacakan puisi yang telah dipersiapkan dan disetujui untuk disampaikan dalam upacara tersebut.

“Mulai sekarang kain kafan adalah pakaian kita. Aku bersumpah demi darahmu; pembunuhan Trump adalah tanggung jawab kita,” kata Mohammad Rasouli.

Ia kemudian melanjutkan dengan kalimat yang memicu sorakan sebagian besar pelayat.

“Mengapa orang paling bejat di dunia masih hidup? Dunia bukan lagi tempat yang baik untuk Trump. Mengapa kita tidak membunuh orang yang membunuh imam kita? Akan menjadi aib jika kita tidak melakukannya.”

Pidato tersebut memunculkan beragam reaksi di dalam lokasi pemakaman. Namun, sebagian besar massa menyambutnya dengan antusias dan meneriakkan slogan-slogan dukungan.

Baca Juga: Dicap 'Gila' oleh Trump, Netanyahu Klaim Israel dan Amerika Masih Satu Tujuan soal Perang Iran

Di sisi lain, Duta Besar Iran untuk Armenia, Khalil Shirgholami, turut menyampaikan pernyataan melalui akun X miliknya.

“Anda bisa membunuh orang, tetapi Anda tidak bisa membunuh cita-cita. Anda membunuh Ayatollah Khamenei, tetapi sebenarnya Anda memecahkan sebotol parfum, yang aromanya kini telah menyebar ke mana-mana."

Prosesi pemakaman yang awalnya menjadi momen penghormatan terakhir bagi Khamenei pun berubah menjadi panggung politik yang memperlihatkan besarnya amarah publik Iran, sekaligus mempertegas ketegangan yang masih membayangi hubungan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri