Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Trump Kembali Ngotot Ingin Beli Greenland, Sebut Pulau Strategis Itu Seharusnya Dikuasai AS

Trump Kembali Ngotot Ingin Beli Greenland, Sebut Pulau Strategis Itu Seharusnya Dikuasai AS Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menghidupkan ambisinya untuk membeli Greenland. Bahkan, Trump kini disebut mengesampingkan pendekatan diplomatik setelah pembicaraan antara Amerika Serikat, Denmark, dan Greenland tidak membuahkan kesepakatan.

Laporan The Telegraph menyebut negosiasi yang sebelumnya membahas peningkatan kerja sama keamanan dan perluasan akses militer AS di Greenland mengalami jalan buntu. Sejumlah perbedaan menjadi penghambat, termasuk persoalan penggunaan pelabuhan serta sikap tegas Denmark yang menolak kemungkinan Greenland dijual kepada Amerika Serikat.

Seorang pejabat senior AS mengatakan pemerintahan di Greenland, Denmark, dan Amerika Serikat sama-sama ingin mencari solusi jangka panjang atas persoalan tersebut. Namun, Washington tetap menilai akuisisi Greenland menjadi opsi terbaik.

"Presiden mengajukan solusi berupa AS mengakuisisi Greenland. Kami masih meyakini itu adalah cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan pertahanan NATO terkait Greenland, meski kami juga terus mengeksplorasi mekanisme lain," ujar pejabat tersebut.

Trump sendiri kembali menegaskan keinginannya saat menghadiri KTT NATO di Ankara, Turkiye. Dalam pertemuan dengan Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan, ia menyatakan Greenland seharusnya berada di bawah kendali Amerika Serikat, bukan Denmark.

Menurut Trump, posisi Greenland sangat strategis bagi kepentingan keamanan AS karena berada di kawasan yang semakin ramai oleh aktivitas kapal-kapal China dan Rusia. Ia juga menilai Denmark tidak memberikan dukungan yang cukup kepada Greenland meski Amerika Serikat telah banyak membantu negara tersebut menghadapi ancaman Rusia.

Pernyataan Trump langsung dibantah oleh pejabat senior Denmark yang menyebut klaim tersebut tidak sesuai fakta. Pemerintah Denmark kembali menegaskan bahwa Greenland tetap berada di bawah kedaulatannya dan tidak pernah ditawarkan untuk dijual.

Isu Greenland diperkirakan kembali menjadi sumber ketegangan di dalam NATO. Ancaman Trump sebelumnya untuk mengambil alih pulau tersebut, termasuk dengan opsi kekuatan militer, sempat memicu kekhawatiran akan munculnya konflik di antara negara-negara anggota aliansi.

Laporan yang sama menyebut Inggris berupaya meredakan situasi dengan meyakinkan Washington bahwa penguatan misi NATO di kawasan Arktik, termasuk pengerahan kapal induk HMS Prince of Wales, sudah cukup menjaga stabilitas kawasan. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer juga disebut memanfaatkan forum KTT NATO untuk melobi Trump agar mengurungkan rencana tersebut.

Sementara itu, Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves menegaskan masa depan Greenland sepenuhnya menjadi hak rakyat Greenland dan Denmark, bukan Amerika Serikat.

Baca Juga: Kembali Ingin Caplok Greenland, Presiden Amerika Bikin Sekutu Eropa Meradang Saat Rapat NATO

Di tengah memanasnya isu tersebut, Denmark terus memperkuat pertahanannya di kawasan Arktik. Pada Selasa (7/7/2026), pemerintah Denmark mengumumkan pembelian dua pesawat patroli maritim P-8A Poseidon buatan Boeing. Selain itu, Denmark juga bergabung dengan Inggris, Norwegia, dan Jerman dalam pengoperasian pesawat tersebut guna meningkatkan kemampuan anti-kapal selam di sekitar Greenland.

Sebelumnya, pemerintah Denmark juga sempat menawarkan perluasan kehadiran militer AS di Greenland melalui perjanjian pertahanan era Perang Dingin sebagai salah satu upaya meredakan ketegangan dengan Washington. Meski demikian, Copenhagen tetap menegaskan bahwa Greenland bukan untuk diperjualbelikan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy

Tag Terkait: