Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Piala Dunia 2026 Disebut Jadi Alat Tekanan Politik AS pada Iran

Piala Dunia 2026 Disebut Jadi Alat Tekanan Politik AS pada Iran Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuduh Amerika Serikat memanfaatkan statusnya sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia FIFA 2026 untuk memberikan tekanan terhadap negara-negara pesaing, termasuk Iran.

Melalui unggahan di platform media sosial X pada Rabu (8/7/2026), Pezeshkian mengecam tindakan Washington yang disebutnya sebagai bentuk “perundungan”. Ia menilai kebijakan AS sebagai tuan rumah turnamen sepak bola dunia tersebut tidak terlepas dari pola kebijakan luar negeri negara itu.

“Perilaku pemerintah AS sebagai tuan rumah Piala Dunia mengikuti kebijakan luar negerinya selama ini: membengkokkan aturan, mengintimidasi lawan, menciptakan hambatan, dan berbuat curang. Ini adalah taktik MAGA mereka. Iran menolak permainan semacam itu. Kami teguh mempertahankan hak-hak kami,” tulis Pezeshkian.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika hubungan Washington dan Teheran tengah berada dalam situasi yang semakin tegang. Ketegangan meningkat setelah serangan udara Amerika Serikat terhadap sejumlah sasaran militer Iran akibat eskalasi konflik terkait aktivitas maritim di kawasan Selat Hormuz.

Situasi semakin memanas setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata sementara dengan Iran telah “berakhir”. Di sisi lain, perselisihan terkait penyelenggaraan Piala Dunia 2026 antara kedua negara telah berlangsung selama beberapa pekan.

Salah satu sumber ketegangan berasal dari pembatasan visa yang diberlakukan Amerika Serikat. Kebijakan tersebut membuat sejumlah staf teknis penting tim nasional Iran tidak dapat memasuki wilayah AS. Selain itu, aturan keamanan juga melarang Iran mendirikan kamp pelatihan di Amerika Serikat selama turnamen berlangsung.

Akibat pembatasan tersebut, tim Iran memilih bermarkas di Tijuana, Meksiko. Skuad Iran hanya diperbolehkan melakukan perjalanan ke AS pada hari pertandingan dan diwajibkan kembali setelah laga selesai.

Meski menghadapi kendala logistik, Iran tetap mampu tampil kompetitif dengan tidak terkalahkan pada fase grup. Namun, perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 berakhir pada 28 Juni setelah gagal melaju ke babak gugur.

Kritik Pezeshkian juga muncul di tengah meningkatnya perdebatan mengenai integritas penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Salah satu kontroversi terjadi setelah Trump mengklaim dirinya ikut campur secara langsung dengan meminta Presiden FIFA Gianni Infantino membatalkan sanksi skorsing terhadap penyerang tim nasional Amerika Serikat, Folarin Balogun.

Baca Juga: Sebut Iran 'Sampah', Donald Trump Nyatakan Nota Kesepahaman Damai Resmi Berakhir

Klaim tersebut memicu kritik dari sejumlah pihak di dunia sepak bola yang menilai adanya potensi campur tangan politik dalam olahraga. Mereka mempertanyakan independensi keputusan sepak bola internasional ketika terdapat tekanan dari pihak luar.

Perselisihan antara Iran dan Amerika Serikat pun menambah daftar panjang isu politik yang mewarnai penyelenggaraan Piala Dunia 2026, yang digelar di tiga negara tuan rumah yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: