Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Diungkap Mantan Diplomat Senior Amerika, Trump dan Israel Sudah Beda Tujuan di Perang Iran

Diungkap Mantan Diplomat Senior Amerika, Trump dan Israel Sudah Beda Tujuan di Perang Iran Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Hubungan Amerika Serikat dan Israel dalam menghadapi tekanan menyusul perang dengan Iran. Meski sama-sama terlibat dalam tekanan terhadap negara itu, kedua negara kini dinilai memiliki kepentingan yang tidak lagi sejalan mengenai arah lanjutan konflik.

Mantan Diplomat Senior Amerika Serikat dan Anggota Tim Negosiasi Perjanjian Nuklir Iran 2015, Alan Eyre menyebut hubungan kedua negara kini memiliki prioritas berbeda setelah konflik berkembang menjadi lebih kompleks di Timur Tengah.

Baca Juga: Dua Menterinya Prabowo Sudah Tidak Mampu Tangani Kasus Korupsi Febrie Adriansyah, Kata Mahfud MD

"Amerika Serikat dan Israel, pada titik ini, memiliki tujuan strategis yang berbeda," kata Eyre, dikutip Senin (13/7).

Menurutnya, Amerika Serikat saat ini lebih memilih membatasi kerugian akibat konflik yang berkepanjangan. Fokus utama mereka adalah menghindari keterlibatan lebih jauh dalam perang yang dinilai semakin sulit dikendalikan dan memulihkan keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

"Amerika Serikat hanya ingin membatasi kerugiannya, membuka kembali jalur perdagangan, lalu menjauh karena situasi ini sudah menjadi kubangan masalah," ujarnya.

Sebaliknya, Israel disebut masih memandang operasi militer belum selesai terhadap Iran. Tel Aviv dinilai ingin melanjutkan tekanan militer dan berharap sekutunya kembali ikut melakukan serangan terhadap musuh maupun kelompok Hezbollah.

"Israel berpikir ini adalah urusan yang belum selesai. Mereka ingin melanjutkan serangan, dan ingin sekutunya kembali melakukan serangan terhadap Iran dan Hezbollah," katanya.

Perbedaan kepentingan tersebut menunjukkan bahwa kesamaan langkah kedua negara pada awal konflik mulai bergeser. Jika Washington kini lebih mengutamakan stabilitas jalur perdagangan internasional dan mengurangi keterlibatan militernya, pihak lainnya justru dinilai masih melihat peluang untuk melanjutkan operasi militer sebagai bagian dari strategi jangka panjang.

Menurut Eyre, kondisi tersebut membuat dinamika konflik dalam kawasan semakin sulit diprediksi, khususnya terkait dengan perang dari Iran dan Amerika.

"Situasinya sangat dinamis, dengan begitu banyak variabel yang sedang bermain," ujar Eyre.

Baca Juga: Baru Dua Tersangka, Kasus Febrie Adriansyah Uji Integritas Hukum Indonesia: Tidak Boleh Ada Ruang...

Perbedaan objektif antara dua sekutu utama tersebut diperkirakan akan memengaruhi arah perkembangan konflik dalam beberapa waktu ke depan. Jika tidak ada kesepahaman mengenai strategi bersama, respons terhadap musuh bisa menjadi semakin kompleks, sekaligus membuka kemungkinan munculnya kebijakan yang berbeda antara Washington dan Tel Aviv.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar