Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Kemenperin Gencarkan Edukasi Bedakan Batik Asli dan Kain Printing

Kemenperin Gencarkan Edukasi Bedakan Batik Asli dan Kain Printing Kredit Foto: Antara/Dedhez Anggara
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat upaya pelestarian batik sebagai warisan budaya tak benda Indonesia yang telah diakui UNESCO. Salah satu fokus yang didorong pemerintah adalah meningkatkan pemahaman masyarakat agar mampu membedakan batik asli karya perajin dengan kain bermotif batik yang diproduksi secara massal.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui dukungan terhadap Pagelaran Seni Batik Indonesia Puspa Nuswantara 2026 yang diselenggarakan Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) bersama Yayasan Batik Indonesia pada 8-12 Juli 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta.

Penyelenggaraan ajang tersebut sejalan dengan tugas Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin dalam menjaga keaslian batik sekaligus memperkuat daya saing industri kecil dan menengah (IKM) batik agar mampu naik kelas.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, tren penggunaan batik terus berkembang, terutama di kalangan generasi muda. Batik kini tidak lagi identik sebagai pakaian formal, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup dan fesyen sehari-hari.

"Industri batik saat ini terus menunjukkan tren positif, baik di pasar domestik maupun internasional. Ekspornya meningkat dan generasi muda semakin bangga menggunakan batik yang mencerminkan identitas budaya bangsa," ujar Agus dalam keterangannya, Selasa (14/7/2026).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor produk batik sepanjang 2025 mencapai US$30,62 juta atau naik 13,03 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar US$26,63 juta.

Di balik pertumbuhan tersebut, Agus mengingatkan adanya tantangan yang dihadapi industri batik nasional, yakni semakin banyaknya kain printing bermotif batik yang beredar di pasaran. Produk tersebut dipasarkan dengan harga lebih murah dan dapat diproduksi dalam jumlah besar dalam waktu singkat sehingga berpotensi menggerus pangsa pasar batik asli sekaligus menurunkan apresiasi masyarakat terhadap nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Baca Juga: Tak Mau Batik dan Anyaman Punah, Dedi Mulyadi Bakal Gaji Pembatik hingga Pengukir

Menurut Agus, masyarakat sebenarnya dapat mengenali perbedaan batik asli dengan kain bermotif batik melalui sejumlah ciri sederhana. Batik tulis maupun batik cap dibuat menggunakan teknik perintangan warna dengan malam atau lilin sehingga motifnya menembus hingga sisi belakang kain. Warna pada kedua sisi kain juga biasanya tidak sepenuhnya sama.

Selain itu, batik asli memiliki aroma khas malam, garis motif yang tidak selalu simetris karena dibuat secara manual, serta harga yang mencerminkan proses pengerjaan dan keterampilan perajinnya. Sebaliknya, kain printing hanya memiliki motif pada satu sisi kain, warna yang seragam, pola yang sangat rapi karena dicetak mesin, dan umumnya dijual dengan harga lebih murah.

Agus menilai edukasi mengenai perbedaan tersebut perlu terus digencarkan agar masyarakat dapat memilih batik asli secara tepat. Dengan meningkatnya kesadaran konsumen, para perajin juga akan memperoleh apresiasi sekaligus nilai ekonomi yang layak atas karya mereka.

Direktur Jenderal IKMA Kemenperin Reni Yanita mengatakan, pemerintah secara rutin menjalankan berbagai program untuk memperkuat ekosistem IKM batik, mulai dari perlindungan produk hingga peningkatan daya saing.

Salah satunya melalui fasilitasi sertifikasi Batikmark, yaitu tanda pengenal resmi batik buatan Indonesia yang diberikan kepada pelaku IKM setelah memenuhi persyaratan tertentu.

"Dengan Batikmark, produk IKM binaan memiliki bukti otentikasi yang jelas sehingga konsumen dapat mengenali keasliannya dan perajin memperoleh perlindungan serta nilai tambah yang semestinya," kata Reni.

Selain Batikmark, Ditjen IKMA juga menyelenggarakan bimbingan teknis untuk meningkatkan efisiensi produksi, mulai dari proses desain, pewarnaan hingga finishing, sehingga produktivitas dan kualitas produk batik dapat terus meningkat dengan biaya produksi yang lebih kompetitif.

Program lain yang turut diperkuat adalah pengembangan Indikasi Geografis sebagai bentuk perlindungan hukum terhadap batik yang memiliki karakteristik khas sesuai daerah asalnya. Melalui skema tersebut, batik daerah diharapkan memperoleh pengakuan yang lebih kuat, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Berbagai dukungan lain juga terus diberikan kepada pelaku IKM batik, seperti fasilitasi sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) self declare, program restrukturisasi mesin dan peralatan produksi, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, hingga perluasan akses pembiayaan dan pasar.

Baca Juga: Dari Mesin Batik hingga Drone, Indonesia Pamer Kekuatan Manufaktur di Rusia

Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Kemenperin Budi Setiawan menambahkan, pihaknya terus menjalin kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk asosiasi perajin, dalam mendampingi pelaku IKM batik dan membuka akses pasar melalui berbagai pameran.

Ia berharap Pagelaran Seni Batik Indonesia Puspa Nuswantara 2026 dapat memperluas pasar batik nasional sekaligus semakin mendekatkan masyarakat dengan kekayaan wastra Nusantara.

"Semoga kegiatan ini semakin memperkuat kecintaan masyarakat terhadap batik sekaligus mendorong kemajuan industri batik nasional," ujar Budi.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Fajar Sulaiman