- Home
- /
- EkBis
- /
- Agribisnis
Sumbang Devisa Jumbo, Kementan Kebut Pembenahan Tata Niaga Kelapa Sawit Nasional
Kredit Foto: Muhammad Farhan Shatry
Sektor kelapa sawit resmi dinobatkan sebagai salah satu komoditas strategis nasional penopang ketahanan ekonomi makro. Kontribusi penjualan produk hilirisasi dari turunan kelapa sawit terbukti menjadi motor utama penyumbang pundi devisa perniagaan internasional.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan pemerintah bergerak cepat melakukan restrukturisasi sistem tata niaga perdagangan komoditas dari lini hulu. Penataan ini ditargetkan mampu melipatgandakan akumulasi nilai tambah yang masuk ke kas keuangan negara.
“Kalau seluruh potensi sawit bisa dioptimalkan dan harga petani terjaga, nilai ekspor Indonesia akan meningkat signifikan. Karena itu pemerintah akan terus hadir memastikan petani memperoleh harga yang adil,” jelas Mentan Amran melalui keterangan pers Kementerian Pertanian, Rabu (15/7/2026).
Mentan Amran, yang tengah berdialog dengan petani dan pemerintah daerah di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Selasa kemarin (14/7/2026), juga menggarisbawahi bahwa kesejahteraan petani menjadi parameter utama kesuksesan pembangunan agraria. Korporasi dilarang keras memicu kerugian finansial bagi para petani lewat penentuan tarif sepihak.
“Kalau mau negara berhasil, jangan sakiti rakyat. Temani rakyat, dorong rakyat untuk berproduction. Itu tugas kita,” tegas Amran.
Lebih lanjut, Amran memaparkan langkah penegakan hukum lewat tim Satgas dikerahkan guna mengantisipasi manuver buruk dari para mafia dagang. Kelancaran arus niaga yang adil diyakini bakal mengukuhkan kedaulatan ekonomi Indonesia di kancah global.
Baca Juga: Hilirisasi Industri Sawit Nasional, Mentan Amran Tegaskan B50 Perkuat Pasar Domestik
Baca Juga: Ketergantungan Impor Pangan Lebanon 80 Persen, Mentan Amran Siap Pasok Beras RI
“Alhamdulillah, setelah kita umumkan langkah pemerintah, harga langsung bergerak naik dan sekarang sudah mulai pulih. Tetapi saya ingatkan, masih ada yang coba-coba menurunkan harga lagi. Kalau ada, Satgas akan menindak tegas,” ujarnya.
Selain itu, Amran turut memaparkan anomali harga tandan buah segar (TBS) sawit yang justru turun pada saat lonjakan kenaikan harga di tingkat dunia. Menurutnya, pemerintah di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto terus mengawal harga komoditas strategis agar manfaat kenaikan harga dunia dapat dirasakan langsung oleh petani.
“Harga sawit dunia mencapai sekitar Rp27 ribu per kilogram, sementara di Indonesia sempat berada di kisaran Rp14 ribu hingga Rp15 ribu. Ketika nilai dolar menguat, yang seharusnya menikmati keuntungan adalah petani sawit, petani kopi, petani kakao, dan petani kelapa. Tapi justru harga sempat turun. Ini ada apa?” lugas Mentan Amran.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Muhammad Farhan Shatry
Editor: Dwi Aditya Putra