Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bayang-bayang Prabowo Akan Terus Menghantui Anak Jokowi: Dia Susah Diterima Publik

Bayang-bayang Prabowo Akan Terus Menghantui Anak Jokowi: Dia Susah Diterima Publik Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Wakil Presiden Indonesia Gibran Rakabuming Raka dinilai masih menghadapi tantangan besar dalam memperoleh penerimaan dari masyarakat. Anak Joko Widodo (Jokowi) itu disebut masih terlalu dibayangi kepemimpinan dari Presiden Indonesia, Prabowo Subianto.

Pengamat Politik dan Direktur Eksekutif Lingkar Madani (LIMA), Ray Rangkuti menilai persepsi publik terhadap politikus muda tersebut hingga kini belum sepenuhnya positif. Ia mengatakan kesan bahwa sosok itu sulit diterima publik cukup kuat dan berpotensi memengaruhi dinamika politik menuju Pemilihan Presiden 2029.

Baca Juga: Status Tersangka Febrie Adriansyah Ternyata Belum Gugur, Kejaksaan: Saat Ini Masih Disebut Oknum

"Ada kesan yang saya baca bahwa dia ini susah diterima publik. Saya kira kesan itu cukup kuat di tengah masyarakat," kata Ray dalam podcast dari YouTube "Hendri Satrio Official," dikutip Kamis (16/7).

Kondisi Gibran menurutnya tidak terlepas dari jabatan politikus itu sebagai wakil presiden yang yang mendampingi Presiden Prabowo Subianto. Di mata masyarakat, keduanya dinilai sebagai satu kesatuan dalam menjalankan pemerintahan.

Akibatnya, setiap kritik yang ditujukan kepada pemerintah kerap ikut menyeret nama Gibran. Keduanya dianggap sebagai satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan.

"Ketika ada orang berbicara negatif mengenai presiden, di dalamnya biasanya ada Gibran. Jadi, keduanya dipandang sebagai satu paket yang tidak terpisahkan," ujarnya.

Menurut Ray, Prabowo-Gibran juga berbeda dengan Soeharto-Habibie. Ia mengatakan jika keduanya diminta mundur, maka kondisi tersebut berbeda dengan situasi menjelang lengsernya Presiden Soeharto di1998.

Saat Soeharto mengundurkan diri, publik masih melihat positif sosok dari Habibie. Ia masih dapat melanjutkan pemerintahan sebagai presiden karena tidak menjadi sasaran utama tuntutan masyarakat saat itu.

Sementara pada pemerintahan sekarang, ia melihat publik lebih sering mengaitkan presiden dan wakil presiden sebagai satu kesatuan.

"Ketika Pak Harto diminta mundur, tuntutan itu belum tentu ditujukan juga kepada Pak Habibie. Situasinya berbeda dengan Prabowo dan Gibran," kata Ray.

Ray menilai persepsi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Gibran. Menurutnya, apabila dia ingin membangun citra politik yang lebih mandiri di hadapan publik, ia harus bisa keluar dari bayang-bayang Prabowo.

Menurutnya, selama publik masih melihat kedunya sebagai satu paket, penilaian terhadap pemerintahan akan berpengaruh langsung terhadap elektabilitas keduanya.

Baca Juga: Bocoran Susunan 'Tim Sembilan' Kejagung Pengusut Kasus Febrie Adriansyah, Banyak Alumni dari KPK

Situasi itu, kata Ray, menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam membaca peta politik nasional menjelang kontestasi Pilpres 2029.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar