Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Perang Timur Tengah Memanas, AS Restui Penjualan Senjata Rp33,5 Triliun untuk Arab Saudi

Perang Timur Tengah Memanas, AS Restui Penjualan Senjata Rp33,5 Triliun untuk Arab Saudi Kredit Foto: Military Footage Archive
Warta Ekonomi, Jakarta -

Amerika Serikat menyetujui penjualan paket persenjataan senilai US$1,96 miliar atau sekitar Rp33,5 triliun kepada Arab Saudi. Paket tersebut ditujukan untuk memperkuat sistem pertahanan udara Riyadh di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Persetujuan itu diumumkan Departemen Luar Negeri AS pada Rabu (15/7/2026) waktu setempat. Washington menyebut langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas kawasan Teluk.

"Penjualan yang diusulkan ini akan mendukung kebijakan luar negeri dan tujuan keamanan nasional Amerika Serikat dengan meningkatkan keamanan Sekutu utama non-NATO yang merupakan kekuatan untuk stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di Kawasan Teluk," kata Departemen Luar Negeri AS dalam rilis resminya.

Paket persenjataan itu mencakup hingga 20.000 unit Advanced Precision Kill Weapon Systems (APKWS) beserta hulu ledaknya. Sistem tersebut dikenal sebagai senjata berpemandu presisi yang dirancang untuk menghancurkan sasaran dengan risiko kerusakan di sekitar target yang lebih kecil.

Kontraktor utama dalam pengadaan ini adalah BAE Systems yang berbasis di Nashua, New Jersey. Pemerintah AS menilai penjualan tersebut akan meningkatkan kemampuan pertahanan Arab Saudi terhadap berbagai ancaman.

"Penjualan yang diusulkan akan meningkatkan kemampuan Arab Saudi untuk mencegah ancaman saat ini dan di masa mendatang dengan memperkuat pertahanan dalam negerinya, dan meningkatkan interoperabilitas dengan pasukan AS, dan pasukan regional dan NATO lainnya," kata Departemen Luar Negeri AS.

Persetujuan penjualan senjata itu muncul ketika situasi keamanan di kawasan kembali memanas. Arab Saudi disebut berada di ambang konflik baru dengan kelompok Houthi di Yaman setelah serangan rudal menghantam Bandara Abha pada awal pekan ini.

Kelompok Houthi melancarkan serangan tersebut setelah pasukan pemerintah Yaman menyerang Bandara Sanaa. Houthi menuding Arab Saudi berada di balik serangan yang menargetkan rombongan mereka.

Baca Juga: Separuh Jalan MOU Iran–AS: Hormuz Membawa Konflik ke Babak Baru

Di saat yang sama, Amerika Serikat juga meningkatkan operasi militernya terhadap Iran. Ketegangan kedua negara kembali meningkat setelah Washington memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran.

"Tidak akan ada dampak buruk pada kesiapan pertahanan AS sebagai akibat dari penjualan yang diusulkan ini," kata Departemen Luar Negeri AS.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy