Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Vale Buka Suara Soal Pasokan Sulfur untuk HPAL

Vale Buka Suara Soal Pasokan Sulfur untuk HPAL Kredit Foto: PT Vale
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memastikan ketersediaan sulfur untuk mendukung pengolahan bijih nikel menggunakan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL). Perusahaan mengaku masih memiliki stok sulfur dari pengadaan sebelumnya di tengah ketatnya pasokan komoditas tersebut di pasar global.

Direktur sekaligus Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia, Budiawansyah, mengatakan perseroan relatif aman menghadapi gangguan pasokan sulfur karena masih memiliki persediaan yang cukup.

"Kita masih ada stok yang memang dari purchasing kita sebelum-sebelumnya gitu," ujar Budi di Jakarta, Kamis (13/8/2026).

Meski masih memiliki stok, Budi mengakui sulfur saat ini menjadi komoditas yang sulit diperoleh industri pengolahan nikel. Kondisi tersebut tidak terlepas dari gangguan rantai pasok akibat gejolak geopolitik di Timur Tengah yang sebelumnya berdampak terhadap pasokan sulfur ke Indonesia.

Selain mengandalkan stok yang tersedia, Vale juga melakukan diversifikasi sumber bahan baku dengan memanfaatkan pirit yang terkandung dalam tailing atau limbah sisa pengolahan nikel.

"Sulfur itu susah banget, ya kalau ada katanya, susah barangnya," tandasnya.

Kelangkaan pasokan tersebut turut berdampak terhadap harga sulfur. Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) Arif Perdana Kusumah mengatakan gangguan pasokan global akibat ketegangan geopolitik telah mendorong kenaikan harga sulfur yang menjadi salah satu bahan penting dalam pengolahan nikel berbasis HPAL.

Menurut Arif, harga sulfur saat ini telah meningkat signifikan dibandingkan periode sebelumnya.

“Harga sulfur hari ini itu 1.200. Pada bulan April tahun lalu harganya hanya 250 saja,” ujar Arif dalam Indonesia Critical Minerals di Jakarta, awal Juni 2026.

Sulfur digunakan dalam proses pelindian asam bertekanan tinggi untuk menghasilkan produk antara nikel seperti mixed hydroxide precipitate (MHP). Kebutuhan sulfur dalam proses tersebut juga tergolong besar, dengan produksi satu ton MHP membutuhkan sekitar 11,7 ton sulfur.

Tingginya kebutuhan tersebut membuat pelaku industri mulai mencari sumber pasokan alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap pemasok tertentu.

Baca Juga: Vale Siapkan IGP Morowali Jadi Kawasan Green Industry

Baca Juga: Proyek Tanamalia Vale Masuki Tahap Penting, Cadangan Nikel Disebut Menjanjikan

Arif mengatakan sejumlah pelaku industri hilirisasi nikel mulai melakukan diversifikasi sumber impor sulfur untuk menjaga keberlangsungan pasokan.

“Ada beberapa negara (diversifikasi). Ada Kanada, Amerika, dan Korea,” ungkapnya.

Hingga 2025, kawasan Timur Tengah masih menjadi salah satu pemasok utama sulfur Indonesia. Sekitar 75%-80% kebutuhan impor sulfur nasional disebut berasal dari kawasan tersebut, dengan total impor sekitar 5,3 juta ton.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra