Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Kemenperin Dorong IKM Olahan Singkong Masuk Rantai Pasok Industri Besar

Kemenperin Dorong IKM Olahan Singkong Masuk Rantai Pasok Industri Besar Kredit Foto: Freepik
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mulai mempercepat integrasi pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) olahan singkong ke dalam rantai pasok industri skala besar. Langkah ini dilakukan untuk memperluas akses pasar bagi pelaku usaha sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional melalui pengembangan industri berbasis komoditas lokal.

Program tersebut menjadi bagian dari implementasi Instruksi Menteri Perindustrian Nomor 2 Tahun 2026 tentang Program Vendor Development yang bertujuan membangun kemitraan antara IKM dan industri besar melalui peningkatan kualitas produk, kapasitas produksi, hingga pemenuhan standar industri.

Salah satu upaya yang ditempuh Kemenperin adalah menggelar seminar dan pendampingan teknis produksi serta keamanan pangan bagi pelaku IKM olahan singkong di Kabupaten Lampung Timur. Kegiatan ini diikuti 100 peserta yang terdiri atas pelaku IKM penghasil produk akhir maupun produk antara (intermediate product), serta gabungan kelompok tani.

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan, penguatan industri pangan memiliki peran strategis karena sektor ini terus menunjukkan kinerja positif. Pada triwulan I 2026, industri makanan dan minuman tumbuh 7,04 persen, tertinggi di antara subsektor industri pengolahan nonmigas.

Selain menjadi sektor dengan pertumbuhan tercepat, industri makanan dan minuman juga memberikan kontribusi terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas, yakni mencapai 7,31 persen.

Menurut Faisol, industri pangan kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, gangguan rantai pasok global, hingga fluktuasi harga bahan baku. Karena itu, pemerintah terus mendorong hilirisasi agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok komoditas mentah, tetapi juga mampu menghasilkan produk bernilai tambah.

Baca Juga: Kemenperin Gencarkan Edukasi Bedakan Batik Asli dan Kain Printing

Dalam konteks tersebut, Lampung dinilai memiliki posisi strategis sebagai sentra produksi singkong nasional. Berdasarkan data 2024, produksi singkong di provinsi tersebut mencapai sekitar 7,9 juta ton atau lebih dari separuh total produksi nasional.

Kabupaten Lampung Timur sendiri menjadi salah satu pusat pengembangan industri pengolahan singkong karena telah memiliki ekosistem yang relatif lengkap, mulai dari petani, kelompok tani, hingga pelaku IKM.

"Kami mendukung transformasi industri di Lampung Timur agar tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga mampu menghasilkan produk olahan bernilai tambah yang memiliki daya saing lebih tinggi," ujar Faisol.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Fajar Sulaiman