Kredit Foto: Sufri Yuliardi
PT Pertamina Patra Niaga mengakui antrean dan pembelian BBM secara berlebihan atau panic buying masih terjadi di sejumlah wilayah Sumatera. Kondisi itu dipengaruhi peralihan konsumsi masyarakat dari BBM nonsubsidi ke Pertalite dan Biosolar, serta distribusi yang belum cukup cepat merespons peningkatan permintaan.
Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Taufiq Aditiyawarman, mengatakan lonjakan penyerapan BBM bersubsidi menyebabkan kebutuhan pasokan di sejumlah lembaga penyalur meningkat.
“Masih terjadi antrean dan pembelian secara berlebihan atau panic buying di beberapa wilayah di Sumatera secara umum yang juga dipengaruhi oleh kenaikan ataupun shifting dari konsumsi BBM kepada BBM subsidi yaitu pertalite dan solar,” kata Taufiq dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI, Kamis (17/7/2026).
Selain peralihan konsumsi, ia menyebut antrean juga dipengaruhi adanya jeda waktu dalam distribusi BBM menuju lembaga penyalur.
“Dan juga mungkin ada lagging dalam distribusi untuk merespons peningkatan volume penyerapan BBM bersubsidi tersebut ke lembaga penyalur,” ujarnya.
Pertamina Patra Niaga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang terdampak antrean tersebut. Perusahaan menambah pasokan dan mengubah pola distribusi untuk mempercepat pemulihan kondisi di lapangan.
“Yang sudah dan sedang terus kami lakukan adalah untuk menambah pasokan dan pengaturan pola distribusi yaitu dengan menambah armada kemudian juga menambah jam operasi dari SPBU,” kata Taufiq.
Penyaluran BBM dari terminal atau depo menuju SPBU juga ditingkatkan. Pertamina turut berkoordinasi dengan forum koordinasi pimpinan daerah atau Forkopimda untuk mempercepat normalisasi pasokan.
Berdasarkan data Pertamina Patra Niaga, realisasi penyaluran Pertalite pada Juli mencapai 104 persen dibandingkan rata-rata penyaluran harian. Sementara itu, penyaluran Solar atau Biosolar tercatat sekitar 105 persen dari konsumsi normal.
“Realisasi penyaluran pada bulan Juli untuk beberapa produk berada di atas konsumsi normal yaitu penyaluran pertalite sudah tercatat 104% dibandingkan throughput harian dan juga solar atau biosolar sekitar 105%,” ujar Taufiq.
Direktur Pemasaran Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto mengatakan konsumsi BBM bersubsidi meningkat 9,4 persen pada Juli. Peningkatan terjadi setelah Pertamina melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada 18 April.
Komposisi konsumsi Pertalite pada periode Januari hingga Mei berada di kisaran 75 persen. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 80 persen.
“Jadi hampir 5% komposisi BBM gasolin itu sudah bergeser ke BBM PSO. Dampaknya adalah saat ini produk-produk BBM JBU khususnya pertamax series terjadi penurunan hampir 18%,” kata Eko.
Perubahan konsumsi juga terjadi pada produk diesel. Volume penyaluran Biosolar meningkat hampir 13,9 persen pada Juli, sedangkan konsumsi Dexlite dan Pertamina Dex menurun sekitar 6,4 persen.
“Produk gasoil ini juga terjadi peningkatan secara komposisi hampir 1,5% secara volume terjadi peningkatan biosolar juga hampir 13,9% di periode Juli saja,” ujarnya.
Eko mengatakan peningkatan konsumsi Biosolar tidak hanya berasal dari kendaraan masyarakat. Pertamina juga menemukan kendaraan dari sektor industri yang mulai membeli Biosolar bersubsidi di SPBU.
Baca Juga: Pertamina Operasikan Terminal dan SPBU 24 Jam untuk Pulihkan Distribusi BBM Sumut
Baca Juga: Bobby Nasution Sebut Sopir Tangki Diberhentikan Massal, Pertamina Bantah PHK dan Mogok
“Ada beberapa sektor kendaraan yang didominasi industri juga mulai mengisi ke biosolar di SPBU. Ini salah satu terjadi peningkatan lonjakan hampir di semua provinsi sepanjang periode April hingga bulan Juli,” kata Eko.
Untuk mengawasi penyaluran BBM subsidi, Pertamina Patra Niaga bersama BPH Migas dan aparat terkait telah melakukan 471 pembinaan terhadap lembaga penyalur SPBU sepanjang 2026. Perusahaan juga melakukan sekitar 1.840 koordinasi dengan pemangku kepentingan di berbagai daerah.
Pertamina turut memperbaiki sekitar 1,5 juta data kendaraan dalam sistem Subsidi Tepat MyPertamina. Sejak 2023, sebanyak 307.000 kendaraan telah diblokir karena terindikasi atau terbukti menyalahgunakan BBM bersubsidi.
Meski terjadi peningkatan konsumsi dan antrean di sejumlah wilayah, Pertamina memastikan stok BBM dan LPG nasional masih terkendali dan mencukupi. Perusahaan juga menyatakan kebutuhan produk dalam beberapa bulan ke depan masih dapat dipenuhi berdasarkan proyeksi pasokan dan permintaan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: