Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Masoud Pezeshkian: Iran Hadapi Perang Skala Penuh Melawan Amerika Serikat

Masoud Pezeshkian: Iran Hadapi Perang Skala Penuh Melawan Amerika Serikat Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya kini tengah menghadapi perang skala penuh dengan Amerika Serikat (AS). Ia menilai pemerintah dan masyarakat harus bersiap menghadapi seluruh dampak konflik, terutama di sektor ekonomi.

Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian saat bertemu para pejabat peradilan di Teheran, Senin (20/7/2026). Menurutnya, situasi yang dihadapi Iran saat ini menuntut sikap realistis dari seluruh elemen negara.

"Kenyataannya adalah bahwa saat ini Republik Islam Iran terlibat dalam perang skala penuh," ujar Pezeshkian.

"Kita harus realistis dan menerima konsekuensi alami dari perlawanan ini," lanjutnya.

Pezeshkian mengatakan tantangan terbesar yang dihadapi Iran saat ini bukan hanya berasal dari konflik militer. Ia menegaskan tekanan terhadap perekonomian dan kehidupan masyarakat menjadi medan perjuangan yang tidak kalah penting.

"Medan perang terpenting saat ini adalah ekonomi dan mata pencaharian rakyat," katanya.

Ia memperingatkan tekanan ekonomi yang terus meningkat berpotensi memicu ketidakpuasan masyarakat. Kondisi tersebut dinilai dapat menggerus dukungan publik terhadap pemerintah apabila tidak segera ditangani.

"Jika tekanan ekonomi menyebabkan ketidakpuasan sosial terbentuk dan ketidakpuasan ini menyebar, modal sosial yang sangat besar yang telah dibangun rakyat untuk mendukung negara dapat rusak," ujarnya.

Iran menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat setelah konflik dengan Amerika Serikat kembali memanas. Pada Juni lalu, inflasi tahunan di negara tersebut dilaporkan mendekati 90 persen, sementara data inflasi Juli masih belum dipublikasikan.

Gelombang tekanan ekonomi sebelumnya juga memicu aksi protes besar pada akhir Desember. Demonstrasi yang awalnya dipicu tingginya biaya hidup kemudian berkembang menjadi aksi anti-pemerintah dan mencapai puncaknya pada 8 hingga 9 Januari.

Baca Juga: Amerika Kembali Lirik 'Rencana A' untuk Gulingkan Rezim Khamenei di Iran

Pemerintah Iran mengklaim lebih dari 3.000 orang tewas selama rangkaian kerusuhan tersebut. Teheran menuding kekerasan dipicu oleh aksi teror yang didalangi Amerika Serikat dan Israel.

Di sisi lain, sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berbasis di luar Iran memperkirakan jumlah korban jiwa akibat kerusuhan itu lebih tinggi dibandingkan angka resmi yang disampaikan pemerintah Iran.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy