Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Amerika Kembali Lirik 'Rencana A' untuk Gulingkan Rezim Khamenei di Iran

Amerika Kembali Lirik 'Rencana A' untuk Gulingkan Rezim Khamenei di Iran Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Penggulingan Rezim Iran dilaporkan kembali mencuat di lingkungan pemerintahan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Setelah berbagai upaya diplomatik dinilai tidak membuahkan hasil, sebagian pejabat disebut mulai mempertimbangkan kembali opsi perubahan rezim sebagai salah satu strategi menghadapi Teheran.

Dikutip dariĀ Financial Times, laporan tersebut menyebut isu pergantian pemerintahan kembali masuk dalam pembahasan sejumlah kalangan di Amerika Serikat. Sejumlah elemen mulai kembali melirik skenario yang sebelumnya sempat dikesampingkan, yakni menggulingkan pemerintahan yang dipimpin oleh Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.

Baca Juga: Roy Suryo dan Dokter Tifa Berupaya Mengulur-ulur Waktu di Kasus Ijazah Jokowi, Kata THMP

"Sejumlah elemen di pemerintahan kembali mempertimbangkan Rencana A. Mereka melirik rencana menggulingkan rezim di Iran," ungkap Financial Times, Selasa (21/7/2026).

Munculnya kembali opsi tersebut disebut dipicu oleh kegagalan berbagai jalur diplomasi yang sebelumnya diharapkan mampu meredakan ketegangan antara Washington dan Teheran. Dengan kondisi yang semakin memburuk, sebagian pembuat kebijakan mulai mencari pendekatan lain untuk menekan Iran.

Financial Times menyebut upaya mendorong munculnya pemberontakan dari dalam negeri kini kembali menjadi salah satu opsi yang dibahas di Washington.

Strategi tersebut diyakini bertujuan melemahkan pemerintahan terkait dari dalam tanpa harus mengandalkan operasi militer berskala penuh sebagai satu-satunya jalan.

Laporan itu juga mengungkap kemunculan kembali usulan lama dari Israel. Sebelumnya, Israel pernah mengusulkan agar sekutunya memberikan dukungan persenjataan kepada kelompok-kelompok dari Oposisi Kurdi di Iran. Namun, usulan tersebut sempat ditolak oleh pemerintahan Amerika Serikat.

Kini, di tengah meningkatnya konflik dan memburuknya hubungan diplomasi, opsi tersebut disebut berpeluang dihidupkan kembali sebagai bagian dari pencarian strategi alternatif untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran.

Meski demikian, hingga kini belum ada pernyataan resmi yang mengonfirmasi bahwa pemerintah telah mengambil keputusan untuk menjalankan skenario perubahan rezim tersebut.

Laporan Financial Times hanya menyebut bahwa gagasan tersebut kembali menjadi bahan pembahasan internal setelah pendekatan diplomasi dianggap tidak lagi efektif dalam menyelesaikan konflik.

Baca Juga: Trump Ogah Menunggu Lama, Tuntut Infantino Kembali Jadikan Amerika Serikat Tuan Rumah Piala Dunia

Wacana mengenai pergantian rezim tentu menjadi isu yang sangat sensitif di Timur Tengah. Jika benar diwujudkan, langkah tersebut berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih luas, tidak hanya antara kedua negara, tetapi juga melibatkan berbagai kelompok dan negara yang memiliki kepentingan di kawasan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar

Tag Terkait: