Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Ditutup Loyo ke Rp18.000 per USD Usai Gubernur BI Perry Warjiyo Mengundurkan Diri

Rupiah Ditutup Loyo ke Rp18.000 per USD Usai Gubernur BI Perry Warjiyo Mengundurkan Diri Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Senin (27/7/2026). Mata uang Garuda terparkir di Rp18.009 atau melemah 46 poin dibandingkan posisi sebelumnya di level Rp17.963 per USD.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pasar masih merespon negatif terhadap mundurnya Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dari jabatannya. 

Surat pengunduran diri diajukan Pery ke Presiden Prabowo Subianto per kemarin. Presuden Prabowo Subianto telah menerima surat pengunduran diri Perry. Di kesempatan yang sama, Prabowo mengucapkan terima kasih atas dedikasi.

"Pengunduran diri tersebut bersamaan dengan gonjang-ganjing rupiah yang terus melemah akibat tensi geopolitik yang terus memanas di Timur Tengah antara AS dan Iran, membuat Presiden, pemerintah dan DPR sering melakukan intervensi terhadap independensi Bank Indonesia bahkan tidak jauh dari kata mundur untuk Bapk Pery Warjiyo," kata Ibrahim kepada wartawan.

Pelemahan mata uang Garuda juga ditenggarai rasio utang Indonesia yang berada di kisaran 40% terhadap PDB perlu dilihat bersama dengan kemampuan pemerintah dalam membayar utang serta kualitas penggunaan utang tersebut. Rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tidak bisa dilihat secara sederhana hanya berdasarkan angka persentasenya.

Baca Juga: Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur BI, Celios: Ada Tekanan Politik

Baca Juga: Breaking News! Gubernur BI Perry Warjiyo Mundur dari Jabatan

Indikator rasio utang terhadap PDB memang menjadi salah satu ukuran yang lazim digunakan oleh lembaga internasional seperti IMF. Namun, indikator tersebut tidak bisa menjadi satu-satunya ukuran dalam menilai kesehatan fiskal suatu negara. 

"Indikator yang lebih penting untuk diperhatikan adalah rasio pembayaran utang beserta bunganya terhadap pendapatan negara. Indikator tersebut, lebih menggambarkan kemampuan riil pemerintah dalam memenuhi kewajiban utangnya," jelas dia.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra

Tag Terkait: