Kredit Foto: Ist
Kenaikan harga minyak dunia di tengah konflik geopolitik ternyata tidak sepenuhnya menjadi kabar buruk bagi Indonesia. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut lonjakan harga minyak juga berpotensi meningkatkan penerimaan negara melalui sektor minyak dan gas.
Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia mengatakan Indonesia masih memproduksi sekitar 600 ribu barel minyak per hari. Karena itu, ketika harga minyak mentah dunia naik, pendapatan negara dari sektor migas ikut mengalami peningkatan.
"Secara APBN akan menaikkan pendapatan negara dari sisi PNBP (Pendapatan Negara Bukan Pajak) penjualan minyak mentah," ujar Anggia dikutip dari ANTARA, Senin (27/7/2026).
Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai dampak gejolak harga energi global. Menurut Anggia, Indonesia masih menerapkan strategi survival mode untuk menghadapi dinamika pasar energi yang dipicu konflik geopolitik internasional.
Ia menjelaskan kondisi tersebut telah dijalankan sejak krisis energi global yang terjadi pada Februari 2026. Hingga kini, pemerintah belum melihat adanya kepastian bahwa situasi global akan segera kembali normal.
"Hingga saat ini, strategi kita masih sama, yaitu dalam kondisi survival mode. Artinya, kita selalu siap mengantisipasi gejolak atau dinamika perubahan yang cepat," katanya.
Sebagai langkah mitigasi, pemerintah terus melakukan diversifikasi sumber pasokan energi. Kebijakan tersebut mencakup perluasan sumber impor minyak mentah, bahan bakar minyak (BBM), maupun liquefied petroleum gas (LPG) agar pasokan energi nasional tetap terjaga.
Selain memperluas sumber impor, pemerintah juga terus memperkuat cadangan energi nasional. Langkah itu dilakukan untuk memastikan kebutuhan masyarakat dan sektor industri tetap terpenuhi meskipun terjadi gangguan pasokan akibat konflik internasional.
"Pemerintah juga terus memitigasi dan memperkuat stok energi untuk memastikan ketersediaan pasokan bagi masyarakat," ujar Anggia.
Baca Juga: Bus Hidrogen Pertama Mengaspal, ESDM Dorong Koridor Hijau Jakarta–Patimban
Sebelumnya, harga minyak mentah dunia sempat melonjak tajam akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Pada perdagangan Kamis (23/7), harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) naik lebih dari 6 persen hingga menembus US$92 per barel, sedangkan minyak Brent melampaui US$100 per barel, level tertinggi sejak awal Juni 2026.
Namun, perkembangan terbaru menunjukkan tekanan mulai mereda. Mengutip Anadolu, tidak terjadi serangan baru antara Amerika Serikat dan Iran selama dua malam berturut-turut, sementara Pakistan dan Qatar meningkatkan upaya mediasi guna mendorong deeskalasi konflik.
Seiring meredanya ketegangan tersebut, harga minyak dunia mulai terkoreksi. Minyak Brent turun ke kisaran US$90 per barel, sedangkan WTI bergerak di sekitar US$84 per barel, meski pemerintah tetap mempertahankan kewaspadaan terhadap potensi perubahan situasi global yang berlangsung cepat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama