Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pusat Data AI Hampir Rp190 Triliun Digugat Gara-Gara Air Sungai Colorado, Proyek Terancam Tertunda

Pusat Data AI Hampir Rp190 Triliun Digugat Gara-Gara Air Sungai Colorado, Proyek Terancam Tertunda Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Persaingan memperebutkan sumber daya air kini ikut membayangi perkembangan industri kecerdasan buatan (AI). Pengembang proyek data center AI terbesar di California menggugat otoritas irigasi setelah gagal memperoleh akses air yang dibutuhkan untuk mengoperasikan fasilitas senilai US$10 miliar atau hampir Rp190 triliun.

Menurut laporan TechSpot, Imperial Valley Computer Manufacturing (IVCM), pengembang proyek tersebut, mengajukan gugatan terhadap Imperial Irrigation District (IID) setelah utilitas milik publik itu menolak permintaan penyediaan air untuk mendukung operasional fasilitas AI yang tengah direncanakan.

Nilai investasi proyek ini diperkirakan mencapai US$10 miliar. Fasilitas seluas sekitar 950.000 kaki persegi dengan kapasitas listrik 330 megawatt itu diproyeksikan menjadi salah satu pusat data AI terbesar di Amerika Serikat.

Dalam dokumen proyek, pusat data tersebut diperkirakan membutuhkan sekitar 750.000 galon air per hari untuk sistem pendinginan atau sekitar 287 juta galon per tahun.

Meski demikian, IVCM menilai kebutuhan tersebut relatif kecil dibandingkan hak distribusi air yang dimiliki IID. Konsumsi tahunan proyek diperkirakan hanya sekitar 880 acre-feet atau sekitar 0,03% dari total alokasi air tahunan IID yang mencapai 3,1 juta acre-feet.

Namun, isu ini menjadi sensitif karena seluruh pasokan air tawar di Imperial Valley bergantung pada Sungai Colorado. Sungai tersebut juga menjadi sumber air bagi sekitar 35 hingga 40 juta penduduk di wilayah barat Amerika Serikat yang saat ini masih menghadapi tekanan akibat kekeringan berkepanjangan dan menurunnya cadangan air.

Sebagai solusi, pengembang menyatakan proyek tersebut tidak akan meningkatkan konsumsi air secara keseluruhan. IVCM telah menyewa sekitar 160 lahan pertanian di sekitar lokasi dan berencana menghentikan aktivitas irigasi di lahan tersebut agar alokasi airnya dapat dialihkan untuk operasional pusat data.

Pendiri IVCM, Sebastian Rucci, mengatakan pendekatan tersebut memungkinkan penggunaan volume air yang relatif sama tanpa menambah beban terhadap sumber daya air kawasan.

Selain itu, perusahaan memperkirakan proyek tersebut dapat memberikan dampak ekonomi signifikan bagi Imperial County. Selama masa konstruksi diperkirakan akan tercipta sekitar 1.688 lapangan kerja, sementara lebih dari 100 tenaga kerja permanen akan direkrut setelah fasilitas mulai beroperasi.

IVCM juga memperkirakan pusat data tersebut mampu memberikan kontribusi ekonomi hampir US$3 miliar dalam kurun 30 tahun, di tengah tingkat pengangguran Imperial County yang masih mencapai 17,6% pada Juni lalu.

Meski menawarkan potensi investasi dan penciptaan lapangan kerja, rencana tersebut menuai penolakan dari sejumlah pihak.

Para penentang proyek menilai pengalihan air dari sektor pertanian ke industri pusat data dapat menjadi preseden yang berpotensi mengurangi kendali publik atas pengelolaan sumber daya air. Mereka khawatir praktik tersebut akan mendorong pemilik lahan lebih memilih menjual akses air dibandingkan menggunakannya untuk kegiatan pertanian.

Baca Juga: Miliarder AI Korsel Harus Bayar Rp11,5 Triliun ke Mantan Istri Usai Perselingkuhan Terbongkari

Baca Juga: Apple Gugat OpenAI, Persaingan Menuju Era Perangkat AI Makin Memanas

Kekhawatiran itu juga mendorong Pemerintah Imperial County menetapkan moratorium sementara terhadap pembangunan pusat data baru hingga kajian mengenai regulasi proyek sejenis selesai dilakukan.

Kontroversi ini menambah daftar panjang penolakan terhadap pembangunan pusat data AI di berbagai wilayah. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah proyek serupa mendapat sorotan karena tingginya konsumsi air, mulai dari keluhan warga di Georgia, penggunaan air dalam jumlah besar di Virginia, hingga tudingan terhadap pusat data di Chile yang dinilai memperburuk krisis kekeringan di negara tersebut.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri