Kredit Foto: PLN
Investasi pusat data di Indonesia terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi digital dan kebutuhan infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Hingga semester I 2026, total kapasitas operasional pusat data di Indonesia mencapai 682 megawatt (MW) berdasarkan IT Load dan diproyeksikan melonjak menjadi 1,6 gigawatt (GW) pada kuartal II 2027.
Pertumbuhan kapasitas tersebut sejalan dengan bertambahnya jumlah pusat data di Indonesia. Data Center Map mencatat sebanyak 198 pusat data telah beroperasi di Indonesia, dengan 128 di antaranya berada di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).
Dengan demikian, sekitar 64% pusat data nasional terkonsentrasi di kawasan Jabodetabek.
Jumlah pusat data diperkirakan masih bertambah dalam beberapa tahun mendatang seiring ambisi Indonesia menjadi salah satu pusat ekosistem digital di kawasan Asia Pasifik.
Pertumbuhan tersebut juga ditopang besarnya potensi ekonomi digital Indonesia. Berdasarkan laporan Google, Temasek, dan Bain & Company, nilai penjualan bruto atau gross merchandise value (GMV) ekonomi digital Indonesia mencapai US$99 miliar.
Nilai tersebut merupakan yang terbesar di Asia Tenggara dan diproyeksikan meningkat hingga US$340 miliar pada 2030. Pertumbuhan ekonomi digital tersebut ditopang sejumlah sektor, mulai dari e-commerce, transportasi dan makanan, media daring, hingga perjalanan daring.
Di saat yang sama, perkembangan AI meningkatkan kebutuhan terhadap pusat data dengan kapasitas komputasi yang lebih besar.
Tren tersebut mulai terlihat dari ekspansi Digital Edge Indonesia yang akan mengoperasikan pusat data berskala besar di Cikarang, Bekasi. Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas hingga 500 MW dan ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV 2026.
Pembangunan pusat data di kawasan perkotaan menjadi salah satu pilihan operator karena kedekatannya dengan pusat ekosistem digital dan bisnis. Lokasi tersebut dapat membantu menekan waktu tunda (latency), sekaligus memberikan akses terhadap jaringan utilitas, pasokan listrik tegangan tinggi, dan infrastruktur pendukung lainnya.
Namun, konsentrasi pusat data di wilayah perkotaan juga menghadirkan tantangan lingkungan, terutama terkait kebutuhan air dan peningkatan temperatur di sekitar fasilitas.
Mengacu pada simulasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), apabila total kapasitas pusat data di Jakarta meningkat hingga 1 GW, fasilitas tersebut dapat menghasilkan energi panas hingga 100 gigajoule per hari.
Baca Juga: Salim Group Ambil Alih Saham Keppel di IndoKeppel, Siap Genjot Bisnis Data Center
Baca Juga: Danantara Bongkar Kondisi Data Center RI, Antrean Bisa 1 Tahun
Dalam simulasi dengan asumsi pusat data tidak menggunakan pendingin udara, energi panas tersebut berpotensi memicu kenaikan temperatur hingga 0,5 derajat Celsius per hari.
Sementara itu, apabila pusat data dilengkapi sistem pendingin udara, output panas yang dihasilkan berpotensi lebih besar.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ekspansi pusat data tidak hanya membutuhkan kesiapan listrik, jaringan, dan infrastruktur digital, tetapi juga perlu memperhitungkan kebutuhan sumber daya serta dampak lingkungan seiring meningkatnya kebutuhan komputasi AI.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: