Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Wamen ESDM Dorong Riset Tutup Missing Link Industri, Impor Capai Rp3.590 Triliun

Wamen ESDM Dorong Riset Tutup Missing Link Industri, Impor Capai Rp3.590 Triliun Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM, Yuliot Tanjung, mendorong penguatan riset dan inovasi untuk mengisi kekosongan rantai pasok (missing link) industri nasional demi memutus ketergantungan terhadap impor teknologi dan bahan baku.

Yuliot menyampaikan bahwa saat ini terdapat mata rantai industri yang belum terhubung, sehingga Indonesia masih bergantung pada pasokan luar negeri untuk menjalankan hilirisasi di dalam negeri.

"Kita melihat ada nilai yang putus, ada rantai pasok yang tidak terisi, yang harus kita kembangkan secara bersama-sama," kata Yuliot dalam gelaran BRIN Goes To Industry di Jakarta, Selasa, (28/7/2026).

Menurut Yuliot, kekosongan rantai pasok tersebut mengakibatkan tingginya angka impor. Ia menyebut nilai impor bahan baku penolong pada 2025 mencapai 169 miliar dolar AS atau setara Rp2.763 triliun, sementara impor barang modal dilaporkan menembus 50,13 miliar dolar AS atau Rp827 triliun.

Besarnya angka impor tersebut, lanjutnya, dipengaruhi pula oleh ketatnya proteksi teknologi yang dilakukan oleh negara-negara maju terhadap teknologi inti, seperti sel surya dan baterai.

"Justru ini ada proteksi terhadap teknologi. Jadi ini sangat ketat kontrol yang mereka lakukan. Maka setiap jenis mineral ini harus dilakukan pendalaman dan hilirisasi di dalam negeri," ujarnya.

Baca Juga: Sektor ESDM Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik, ESDM Sebut Pendapatan Negara Ikut Terdongkrak

Ia menekankan bahwa riset dan inovasi domestik harus mampu menembus hambatan teknologi tersebut agar nilai ekonomi dari pengolahan sumber daya alam (SDA) bisa terserap sepenuhnya di dalam negeri.

Yuliot juga meminta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), perguruan tinggi, dan badan usaha untuk bersinergi melakukan pendalaman struktur industri dalam bentuk pohon industri yang komprehensif.

"Kalau riset ini bisa kita kembangkan, maka manfaat ekonomi baik dari sisi barang modal maupun bahan baku penolong bisa kita serap di dalam negeri," pungkas Yuliot.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra