- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
Penjualan Alat Berat Melonjak 47%, Kobexindo Raup Pendapatan Rp1,02 Triliun
Kredit Foto: Kobexindo
PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX) membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 13,2% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp1,02 triliun pada semester I-2026. Kinerja tersebut ditopang lonjakan penjualan unit alat berat sebesar 47% YoY seiring strategi diversifikasi produk dan penetrasi merek asal Tiongkok.
Direktur Utama PT Kobexindo Tractors Tbk Andry B. Limawan mengatakan perseroan menerapkan strategi diversifikasi dari sisi jenis maupun merek alat berat untuk menyesuaikan kebutuhan pasar domestik.
"Strategi diversifikasi ini kami lakukan untuk beradaptasi dengan kebutuhan dan permintaan pasar alat berat nasional. Kebijakan ini juga memperkuat jajaran produk alat berat berkualitas yang kami tawarkan yang didukung oleh ketersediaan suku cadang dan dukungan layanan perawatan dan perbaikan," ujar Andry dalam keterangan tertulis, Sabtu (2/8/2026).
Segmen penjualan unit alat berat menjadi kontributor terbesar terhadap pendapatan konsolidasi dengan porsi 70,7%, meningkat dibandingkan kontribusi 54,4% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama berasal dari meningkatnya permintaan alat berat untuk sektor pertambangan maupun nonpertambangan.
Menurut Andry, salah satu produk yang mencatat permintaan tinggi adalah dump truck hybrid merek Tonly. Sejak dipasarkan tahun lalu, produk tersebut terus diminati karena mampu menekan biaya operasional sekitar 30% hingga 40%melalui kombinasi tenaga listrik dan solar.
Selain penjualan unit, Kobexindo juga memiliki empat lini bisnis utama, yakni penjualan alat berat, penjualan suku cadang, jasa perbaikan dan kontraktor pertambangan, serta bisnis sewa yang mencakup penyewaan alat berat dan gedung perkantoran.
Segmen penjualan suku cadang masih menjadi penyumbang pendapatan terbesar kedua dengan kontribusi 14,1%. Namun, pendapatan segmen ini turun 26,6% YoY menjadi Rp144,04 miliar dari sebelumnya Rp196,15 miliar.
Sementara itu, bisnis sewa membukukan pendapatan sebesar Rp84,07 miliar hingga akhir Juni 2026. Pendapatan dari penyewaan alat berat meningkat 14% YoY menjadi Rp79,70 miliar, sedangkan pendapatan sewa gedung turun 23,1%menjadi Rp4,37 miliar.
Adapun segmen jasa perbaikan dan kontraktor pertambangan mencatatkan pendapatan sebesar Rp70,97 miliar atau sekitar 7% dari total pendapatan konsolidasi.
Di sisi profitabilitas, perseroan berhasil meningkatkan laba kotor sebesar 41% YoY menjadi Rp174,8 miliar. Pertumbuhan tersebut menunjukkan perbaikan margin meskipun beban pokok penjualan meningkat 8,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Baca Juga: Pendapatan Indika Energy Tumbuh 19,9%, Laba Semester I Naik Jadi US$10,2 Juta
Baca Juga: MPMX Raup Laba Rp336 Miliar pada Semester I 2026, Margin Makin Tebal
Baca Juga: Laba Bersih PGE Naik 15,48% pada Semester I-2026, Produksi Panas Bumi Tembus 2.745 GWh
Andry mengatakan perseroan akan terus memperluas portofolio produk, khususnya alat berat untuk sektor pertambangan dan nonpertambangan, guna menjaga pertumbuhan penjualan di tengah kondisi industri yang masih menantang.
"Kami akan terus mengoptimalkan peluang dengan menjual produk alat berat untuk kebutuhan pertambangan maupun nonpertambangan. Di tengah kondisi penuh tantangan, kami berkomitmen memperluas diversifikasi produk dan memperkuat layanan purna jual, termasuk memperbesar portofolio merek Tiongkok yang menawarkan harga kompetitif. Strategi ini diharapkan menjaga momentum pertumbuhan penjualan sekaligus memperkuat daya saing Perseroan di pasar domestik," ujar Andry.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: