Kredit Foto: Istimewa
Masukan Lintas Pakar dan Pemangku Kepentingan
Dialog menghadirkan pandangan dari akademisi lintas disiplin, organisasi profesi, dan perwakilan Kemlu, dengan tiga pemantik utama, yakni Dr. Ganjar Samudro, Departemen Teknik Lingkungan, Universitas Diponegoro; Prof. Dr. Sucihatiningsih D.W. Prajanti, Guru Besar Ekonomi Pertanian, Universitas Negeri Semarang (UNNES); dan Prof. Firmansyah, Guru Besar Ilmu Ekonomi, Universitas Diponegoro.
Baca Juga: INDEF: SRUK Belum Cukup Hidupkan Pasar Karbon
Berbagai masukan tersebut dikupas lebih mendalam dengan tanggapan dari kalangan akademisi, praktisi dan Kementerian Luar Negeri. Prof. Ngatindriatun, dan Prof. Taofik Hidayat dari ISEI Semarang menyampaikan pentingnya memperkuat perspektif kesiapan ekosistem daerah dan sisi pembiayaan. Bapak Arimba Eriwibowo dari DPP Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Jawa Tengah menyoroti best practices dari pelaku usaha dan integrasi rantai pasok industri hijau.
Vahd Nabyl Mulachela dan Spica Tutuhatunewa dari Kementerian Luar Negeri RI menegaskan kesiapan Kemlu menindaklanjuti masukan dari para pakar ini ke dalam kanal diplomasi bilateral, termasuk dengan Tiongkok. Kepala BSKLN Muhammad Takdir mengulang komitmen Kemlu dalam promosi KEK dan upaya pengembangannya dengan memanfaatkan keberadaan Perwakilan RI di luar negeri.
Seluruh masukan yang terkumpul menjadi bahan pendalaman pada pertemuan dengan para tenant dan kunjungan lapangan langsung ke KEK Industropolis Batang pada 7 Agustus 2026. Rangkaian kegiatan dirancang untuk menghasilkan rekomendasi strategi kebijakan luar negeri yang konkret bagi Kementerian Luar Negeri RI, sekaligus menegaskan bahwa diplomasi dekarbonisasi Indonesia tidak berhenti pada forum internasional, tetapi berpijak pada kesiapan kondisi nyata yang berasal dari lapangan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Fajar Sulaiman
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: