Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

IHSG Kembali Menguat di Awal Perdagangan, Tembus Level 6.440

IHSG Kembali Menguat di Awal Perdagangan, Tembus Level 6.440 Kredit Foto: Uswah Hasanah
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak di zona hijau pada awal perdagangan Senin (10/8/2026). Penguatan indeks terjadi sejak pembukaan, seiring mayoritas saham yang diperdagangkan berada di zona positif.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.00 WIB, IHSG berada di level 6.440,59, menguat 0,48% dari posisi penutupan sebelumnya di level 6.409,65.

Aktivitas transaksi turut menunjukkan pergerakan yang cukup aktif. Nilai perdagangan tercatat mencapai Rp156,53 miliar, dengan volume transaksi sebanyak 294,43 juta saham dalam sekitar 39.304 kali transaksi.

Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 308 saham menguat, sedangkan 57 saham melemah. Sementara itu, sebanyak 307 saham lainnya belum mengalami perubahan harga.

Arah Kebijakan The Fed Jadi Perhatian

Di balik penguatan IHSG, investor masih menghadapi sejumlah sentimen global, terutama terkait arah kebijakan suku bunga bank sentral utama dunia.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, mengatakan kebijakan moneter global masih menjadi salah satu faktor penting yang akan menentukan arah pasar saham pada pekan ini.

Menurutnya, Federal Reserve Amerika Serikat (The Fed) dan European Central Bank (ECB) masih harus menjaga keseimbangan antara pengendalian inflasi dan risiko perlambatan ekonomi.

"Bank sentral utama, seperti US Federal Reserve dan European Central Bank (ECB) terus menyeimbangkan antara upaya meredam ketahanan inflasi yang melandai secara bertahap dan risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi," ujar David dalam keterangan resminya, Senin (10/8/2026).

David menilai ekspektasi suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama atau higher for longer masih menjadi perhatian pasar. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh pasar tenaga kerja yang masih relatif ketat serta inflasi sektor jasa yang belum sepenuhnya mereda.

Baca Juga: Emiten Hary Tanoe dan Lo Kheng Hong Tertekan, Laba BMTR Turun 41,57%

Baca Juga: OJK Tunjuk Alex Widi sebagai Calon Komisaris BEI, Tinggal Tunggu Persetujuan RUPSLB

Baca Juga: IHSG Naik ke Level 6.352 pada Akhir Pekan, Didorong oleh 220 Saham yang Menguat

Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter global juga dapat memengaruhi imbal hasil surat utang, terutama US Treasury. Kenaikan yield obligasi AS berpotensi mempersempit selisih imbal hasil dengan aset di negara berkembang.

Jika kondisi tersebut berlanjut, investor global berpotensi mengurangi penempatan dana di pasar negara berkembang dan mengalihkannya ke aset negara maju yang dinilai memiliki tingkat risiko lebih rendah.

Meski dibayangi ketidakpastian eksternal, David melihat kondisi ekonomi domestik masih menunjukkan ketahanan yang cukup kuat.

Ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 tumbuh 5,2% secara tahunan (year on year/yoy). Menurut David, capaian tersebut menjadi indikasi bahwa fundamental ekonomi nasional masih mampu bertahan di tengah tekanan global.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, inflasi yang terkendali, serta peningkatan investasi.

"Keberhasilan ini menjadi bukti efektivitas sinergi kebijakan moneter dan fiskal dalam menggerakkan sektor industri manufaktur, perdagangan, dan jasa, sekaligus memperkokoh posisi Indonesia sebagai salah satu motor pertumbuhan paling atraktif di kawasan emerging markets," jelasnya.

Dengan kombinasi sentimen global dan fundamental domestik tersebut, pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati perkembangan kebijakan bank sentral global sebelum menentukan arah investasi selanjutnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dian Ihsan
Editor: Annisa Nurfitri