Gubernur Jabar Dedi Mulyadi: Akademik Kita Sering Normatif Demi Penuhi Gelar, Tanpa Ada Kejujuran...
Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi mendorong kalangan akademisi untuk lebih dekat dengan realitas kehidupan masyarakat. Menurutnya, dunia pendidikan tinggi tidak boleh berhenti pada ruang-ruang pemikiran, penelitian atau pencapaian gelar, tetapi harus mampu menghasilkan karya yang memberikan manfaat nyata bagi publik.
Dedi menilai negara ini membutuhkan lebih banyak insan akademik yang mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi tindakan. Baginya, persoalan bangsa tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengganti rezim pemerintahan atau mengubah berbagai regulasi.
Baca Juga: Puluhan Tahun Kualitas Hidup Warga Jabar Tak Masuk Sepuluh Besar, Dedi Mulyadi: Kita Perlu Waktu
“Akademik di kita sering kali bersifat normatif administratif untuk memenuhi gelar, tanpa ada kejujuran dan keadilan serta tidak menjunjung nilai-nilai kebenaran,” kata Dedi, dikutip Senin (10/8/2026).
Dedi menilai masih terdapat jarak antara gagasan yang berkembang di lingkungan akademik dengan berbagai persoalan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Dedi, kesenjangan tersebut bahkan dapat terlihat di sekitar pusat-pusat pendidikan. Berbagai persoalan sosial yang berada tidak jauh dari lingkungan perguruan tinggi menjadi pertanyaan mengenai sejauh mana pengetahuan yang dihasilkan institusi pendidikan telah diterjemahkan menjadi solusi.
Dedi kemudian mengaitkan pandangannya dengan tradisi pengetahuan masyarakat dari Indonesia. Menurut dia, leluhur bangsa tidak menjadikan pengetahuan sekadar kumpulan tulisan atau kitab yang berhenti sebagai bahan bacaan. Pengetahuan seharusnya diwujudkan dalam bentuk kesadaran dan karya yang bisa dirasakan manfaatnya.
Menurut Gelar akademik seharusnya bukan menjadi tujuan akhir dari proses pendidikan. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk memberikan kontribusi terhadap masyarakat.
Dedi kemudian mendorong akademisi untuk naik satu tingkat dari sekadar menjadi orang yang memiliki pengetahuan menjadi seorang pencipta atau inovator.
Menurutnya, pengetahuan baru memiliki arti ketika mampu melahirkan sesuatu yang konkret dan dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan kehidupan.
“Kalau sudah pencipta, maka harus ada yang diciptakan. Bisa menciptakan lagu, karya arsitektur, sistem pendidikan, sistem aplikasi, sistem energi,” tuturnya.
Bagi Dedi, bentuk karya tidak harus selalu berupa penemuan teknologi atau produk yang rumit. Sebuah sistem pendidikan yang lebih baik, desain arsitektur yang bermanfaat, aplikasi untuk menyelesaikan persoalan publik hingga inovasi di bidang energi juga dapat menjadi bukti bahwa pengetahuan telah diterjemahkan menjadi karya.
Dedi juga meminta akademisi mampu menjembatani bahasa ilmu pengetahuan dengan bahasa yang dipahami masyarakat luas. Menurutnya, gagasan besar akan kehilangan manfaat apabila hanya dapat dipahami oleh kalangan terbatas.
Baca Juga: UGM Tak Ingin Lagi Berurusan Soal Polemik Ijazah Jokowi: Asli atau Palsu, Jangan Tanya ke Kampus
“Seluruh bahasa yang langit itu harus dijelaskan dalam bahasa bumi,” katanya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: